Cursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Selasa, 27 September 2016

SISTEM AKUNTANSI

A. PENGERTIAN SISTEM     Sistem adalah kumpulan elemen yang saling berkaitan dan bekerja sama dalam melakukan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.

Pengertian sistem dilihat dari prosedur atau kegiatannya, sistem merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dibuat untuk melaksanakan program perusahaan.

B. Pengertian Akuntansi
     Akuntansi adalah proses dari transaksi yang dibuktikan dengan faktur, lalu dari transaksi dibuat jurnal, buku besar, neraca lajur, kemudian akan menghasilkan informasi dalam bentuk laporan keuangan yang digunakan pihak-pihak tertentu.

Pihak-pihak yang menggunakan laporan keuangan:
  • Pihak manajemen perusahaan
  • Pemilik perusahaan
  • Investror dan pemegang saham
  • Kreditor
  • Pemerintah
  • Karyawan
Sistem akuntansi adalah kumpulan elemen yang terdiri dari:


  1. Formulir
Formulir merupakan dokumen yang digunakan untuk mencatat terjadinya transaksi ekonomi diperusahaan. dokumen dapat ditulis dalam secarik kertas untuk mendokumentasikan suatu transaksi ekonomi. Contoh: Formulir adalah faktur penjualan
contoh faktur penjualan

    2. Jurnal
Jurnal merupakan Pencatatan berupa debit dan kredit yang bersumber dari formulir. Dalam jurnal ini data keuangan untuk pertama kalinya digolongkan dalam akun-akun dan dimasukkan kedalam debit maupun kredit. Contoh: Jurnal umum
 Hasil gambar untuk Jurnal umum

3. Buku Besar
Buku besar merupakan akun-akun ynag dikelompokkan dan berdasarkan akun yang sudah dikelompokkan tadi dilakukan penjumlahan nilai uangnya.
 Contoh Buku Besar
Hasil gambar untuk Buku Besar

4. Buku Pembantu
Buku Pembantu berfungsi untuk membantu merinci akun yang ada dibuku besar. Buku Pembatu ini terdiri dari akun pembatu yang merinci data keuangan yang tercantum dalam rekening tertentu dalam buku besar. Contohnya: akun hutang dagang
Hasil gambar untuk Buku pembantu

5. Lpaoran Keuangan
Laporan Keuangan merupakan hasil akhir proses akuntansi. Laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba rugi yag digunakan perusahaan untuk melakukan pengambilan keputusan gunamencapai tujuan perusahaan.
Neraca menunjukkan kekayaan perusahaan pada periode tertentu.
Laba-rugi menunjukkan laba atau rugi perusahaan yang diperoleh selama periode tertentu.

Format Neraca
 Hasil gambar untuk Neraca

Format laba rugi
Hasil gambar untuk Laba rugi

DURASI MEMOAR (13 Oktober 2013)

DURASI MEMOAR
“Mar, buruan sudah ditungguin anak-anak ini” suara Tita disebrang sana
“Iya ini lagi otw kesana”
“Ya sudah. Jangan lama-lama ya” ucap Tita sebelum pembicaraan kami ditelepon  benar-benar terputus
Tap tap tap….
Kupacu langkahku secepat mungkin. Dengan membawa beberapa buku ditangan dan keperluan lain yang kita butuhkan untuk mengerjakan tugas dari kampus, semua barang ini membuatku tanganku penuh dan  agak susah untuk sampai ketujuan dengan cepat. Sebenarnya aku butuh bantuin seseorang untuk membantu membawakan semua ini. Aku berjalan dengan terburu-buru tak ingin teman-temanku terlalu lama menungguku.
Bruukkk…
“Aw,eh kalau jalan lihat-lihat donk. Punya mata gak sih”
“Maaf maaf nggak sengaja” ucapku seraya membereskan semua barang-barang yang aku bawa tanpa melihat siapa orang yang aku tabrak.
“Loh Ta, kamu ternyata” orang yang aku tabrak belum pergi ternyata fikirku. Aku segera mendongak untuk melihat siapa orang itu.
“Hey Ga, kok belum pulang? ” tanyaku sambil tetap focus pada barang bawaanku yang berantakan dilantai
“Iya ini baru mau pulang habis ketemu bokap”
“Berantem lagi? eh sorry ya aku buru-buru soalnya”
“Iya gak pa-pa, aku bantuin ya. Kamu juga kok belum pulang, buru-buru lagi mau kemana?”
“Ini mau bikin tugas dari pak Mahmud, biasa disuruh praktek gitu”
“Sini aku bantuin bawa, biar nggak jatuh lagi”
“Nggak usah ngrepotin ntar”
“Nggak pa-pa lagian aku nggak buru-buru kok. Dibawa kemana ini?”
“Ke aula, makasih ya Ga”
“iya”
Kami berjalan berdampingan, dengan tangan yang penuh barang-barang. Berada didekatnya membuat jantungku berdetak semakin gencar. Tak bisa ku pungkiri bahwa aku menyayanginya. Entah sejak kapan. Seringnya bertemu dan berkomunikasi dengannya membuat aku dan dia semakin akrab. Jalan bareng dab berbagi tentang semua hal termasuk keinginan papanya. Dia adalah orang yang menyenangkan, meski dia terlahir dari keluarga yang berada dia tak pernah memilih untuk berteman. Menurut dia semua orang di dunia itu sama saja yang membedakan mereka bukanlah status sosialnya melainkan amal perbuatannya. Selain penampilan fisik rupawannya yang menambah nilai plus pada dirinya adalah dia memiliki jiwa social yang tinggi. Ingin sekali ku hentikan waktu dalam beberapa lama agar aku bisa lebih lama menikmati pemandangan makhluk indah ciptaan-NYA ini.
“Ta, besok aku mau ke Taman bacaan mau ikut nggak?”
Aku masih asyik dengan dunia imajinasiku hingga tak memperdulikan perkataan Yoga.
“Maretha” panggilnya kembali setelah tak mendapatkan jawaban dariku
“Eh iya, kenapa Ga?” tanyaku gelagapan
“Besok aku mau ke taman baca, kamu mau ikut apa enggak?”
“Memangnya aku boleh ikut?”
“Ya boleh lah, so gimana?”
“Iya dech aku ikut”
“Besok aku jemput kerumah kamu okey.”
Pembicaraan kami pun berakhir sampai disitu karena tempat yang kami tuju pun sudah ada di depan mata.
“Makasih ya sudah mau repot-repot bantuin”
“Iya sama-sama”
“Aku masuk dulu temen-temen sudah nungguin”
“Silahkan” ucapnya seraya membungkuk dan tangannya mempersilahkanku, layaknya yang dilakukan pengawal kepada sang putri.
***
“Tapi menjadi seorang dokter bukanlah keinginanku pa, aku punya cita-cita dan mimpi yang kubangun sendiri”
Suara itu tak asing lagi bagiku, itu suara Yoga. Suara itu berasal dari ruangan pak rector.
“Tapi amanat almarhumah mama kamu menginginkan kamu menjadi seorang dokter yang hebat”
“Tapi, pa”
“Sudah tidak ada tapi-tapian lagi. Kamu harus tetap menjadi seorang dokter seperti keinginan almarhumah mamamu. Lusa kamu harus berangkat ke Australia, papa sudah daftarkan kamu disana.” Ucap papanya sebelum meninggalkan Yoga diruangan itu.
Dengan ragu-ragu aku memasuki ruangan itu, pak rector sudah tidak ada disana. Entah kemana perginya setelah memaksa Yoga untuk menuruti kemauannya. Kudapati tubuh jangkung itu sedang berdiri di dekat jendela, pandangannya masih berpusat keluar jendela entah apa yang dilihatnya. Bahkan aku tak yakin kalau dia benar-benar menikmati keindahan apa yang dia lihat itu.
“Ga,” panggilku seraya memegang pundaknya
“Hey Ta” dia kaget, dan mencoba untuk tetap tegar
“Are you okay?”
“Enggak Ta, papa masih tetap memaksaku untuk menjadi seorang dokter. Kamu tau betul kalau itu bukan keinginanku”
“Iya aku tahu, kamu ingin sekali menjadi seorang arsitektur. Tapi, tidak ada salahnya kan kamu mengikuti keinginan orang tuamu?”
“Tidak Ta, kalau aku mengikuti keinginan mereka sama saja aku dengan sebuah robot. Aku bisa menjalani profesi sebagai seorang dokter tapi hatiku pasti akan menolaknya, setiap hari aku harus menenangkan hatiku bahwa ini semua akan berakhir. Lagipula kalau tetap dipaksakan hasilnya tidak akan bisa maksimal.”
“Apa kamu tidak ingin membahagiakan mereka? kamu adalah anak satu-satunya mereka, bukankah selalu berbakti dan membahagiakan orang tua itu adalah keinginanmu. Cobalah mengalah untuk kebahagiaan mereka Ga, meski itu harus mengorbankan cita-citamu. Aku tahu kamu adalah orang yang bijak, dan aku yakin kamu pasti bisa menentukan pilihan yang terbaik”
Aku meninggalkannya. Aku rasa dia butuh waktu untuk sendiri. Menentukan jalan mana yang harus dia ambil bukan hal yang mudah. Apa aku akan kehilangan dia jika dia menuruti keinginan orang tuanya. Aku belum siap melepasnya.
***
Kringg kringgg…
“Halo”
“Mar, Yoga gak ada dia kecelakaan”
Suara di ujung sana membuatku mendadak lemas. Aku masih tak percaya dengan apa yang ku dengar ku coba untuk meyakinkan diriku bahwa aku salah dengar.
“Jangan bercanda Tita, tadi aku ketemu dia diruang pak rector”
“Ini serius Mar, tadi pas mau pulang dia tabrakan sama mobil”

Enggak Tita pasti bohong Yoga belum meninggal, ini pasti bohong. Tak ingin dipermainkan dengan keadaan dan pemikiran seperti ini aku segera kerumah Yoga. Dan ternyata betapa terpukulnya aku bahwa sesosok mayat di hadapanku adalah Yoga. Tak ada kata yang mampu ku ucap. Kenapa dia pergi secepat ini. Aku mencintainya Ya Robb, kenapa kau ambil dia secepat ini. bahkan aku belum sempat mengatakan padanya bahwa aku sangat menyayanginya. Aku tak mengira Tadi diruang rector adalah pembicaraan kami yang terakhir. Mungkin ini memang yang terbaik, dan mungkin kini dia bahagia bertemu mamanya disana. Semoga kelak kita bertemu disurga .
***
About Me
Alzenni Manda, penulis saat ini berdomisili di Bojonegoro, Jawa Timur. Saat ini masih berstatus Mahasiswa di salah satu Universitas Swasta yang ada di kotanya. Pembaca bisa menemuinya di akun pribadinya. FB: Manda Netti