Cursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Jumat, 29 April 2016

FTS Ramadhan (5 juli 2014)

TARAWIH DENGANMU
Ini adalah pengalaman pertama yang aku dapatkan yaitu tarawihku bersama teman-teman dan orang tersayang disekolah. Kalau tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan ramadhan tiba sekolah kita selalu mengadakan pondok romadhon atau yang lebih dikenal dengan pesantren kilat. Tahun ajaran kali ini atau bulan puasa pada tahun ini berbeda dengan sebelumnya.
Sekolah menyelenggarakan tarawih dan tadarus bersama dimasjid sekolah. Tujuan agar kita bisa semakin dekat satu sama lain dan semakin kompak. Jadi setiap malam masjid sekolah akan selalu ramai, tapi kelasnya digabung secara acak tiap kelas bergiliran setiap malam. Semisal kelas X-1 gabung dengan XII-S1 dapat giliran hari pertama yang harus tarawih dan tadarus disekolah selama 2 hari, besoknya baru dilanjut kelas selanjutnya sesuai urutan yang telah ditentukan disekolah.
Dan kelasku mendapat giliran pada minggu kedua pada hari rabu dan kamis, kelasku beserta beberapa kelas lainnya tidak digabung dengan kelas lain karena memang sudah tidak ada kelas yang bisa digabung semua sudah mendapatkan pasangan masing-masing.
Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sekolah, hari itu aku berangkat lebih awal sebelum jam sholat tarawih tiba. Aku pergi diantar dengan ayah karena memang nenekku tak mengijinkan aku pergi sendiri takut ini itu terjadi padaku maklumlah nenek orang kuno jadi masih kolot dan banyak aturan gitu.
Sesampainya disekolah aku langsung menuju ke mushola, mushola itu terletak ditengah setelah lapangan utama sedangkan sekolahku berbentuk angka delapan. Dalam perjalanan aku melihat ruang osis begitu ramai sepertinya pengurus osis lagi berkumpul dan bercanda disana dan tiba-tiba ada salah satu orang yang keluar dan aku mempercepat langkahku.
Teman-temanku sudah berkumpul di masjid ternyata mereka meneriaki.
“Da, disini.” Mereka berteriak sambil melambaikan tangan. Aku hanya mengangguk.
Ternyata masjid sudah ramai bahkan mereka sudah duduk manis ditempatnya siap melaksanakan sholat tarawih. Adzan dan iqomat pun selesai dikumandangkan dan kini tibalah waktunya sholat tarawih.
Selesai sholat tarawih dan dzikir, aku baru menyadari bahwa orang dibarisan depanku adalah dia. Dia yang tadi aku lihat keluar dari ruang osis ketika aku berangkat. Sebenarnya pengen lama-lama disini tapi tak mungkin bisa.
Seraya melipat mukena akupun berpamitan dengan teman-teman. Karena memang aku hanya dapat izin untuk sholat tarawih disekolah tidak dengan tadarus nenekku tak mengijinkan aku pulang malam dan ibuku hanya mengiyakan saja. Lagi-lagi terbentur izin dan segala macam aturannya.
“Kok pulang sich Da, kan belum tadarus?” protes Yuli
“Aku nggak ikut tadarus kan sudah ada kalian…hehe”
“Gara-gara gak dapat ijin?” Vita memastikan
“hehe” Aku cuma bisa nyengir, karena memang itu benar.
Setelah selesai melipat mukena aku langsung keluar masjid. Setelah ada diluar sambil berjalan aku menghubungi ayahku minta dijemput. Dan ayahku bilang orangnya masih beli obat buat nenek jadi datangnya agak terlambat. Aku tak menyadarinya kalau sejak tadi ternyata ada orang lain yang berjalan beiringan denganku.
“Gak tadarus dulu dek? Kok pulang?” Dia mencoba memberitahuku akan adanya dirinya disampingku entah sejak kapan. Mengagetkanku itu pasti.
“Enggak kak.” Jawabku pendek
“Kenapa?”
“Emmmmm” Aku bingung harus menjawa apa tak mungkin aku bilang yang sebenarnya kedia karena pasti dia akan menertawakanku.
“Udah nggak usah dijawab kalau nggak mau ngasih tau.” Katanya setelah melihat mimik wajahku yang sedang kebingungan mencari alasan.
“Kakak sendiri kok disini?” Aku bertanya balik padanya
“Aku mau ngambil absen, duluan ya.”
Aku hanya tersenyum, bahagia disapanya. Dia adalah orang yang membuatku semangat untuk datang ke sekolah. Andi siswoyo itulah namanya, kakak kelas yang masuk anggota osis dan berhasil masuk dihatiku menempati posisi terdalam disana.
“Yah kok belum sampai?” Tanyaku dibenda mungil yang kini menempel ditelinga.
“Ini masih antri sebentar ya.” Jawab orang diseberang sana disertai dengan pemutusan telepon sepihak. Membuatku semakin dongkol saja, sudah tak bisa ikut tadarus bersama teman- teman malah harus nunggu jemputan yang lama sekali.
Didepan ruang guru ada seseorang yang berdiri memperhatikanku. Pintu ruang guru menghadap langsung kepintu gerbang, jadi otomatis dia bisa melihat dengan jelas aku sekarang. Tiba-tiba orang itu berjalan kearahku. Aku semakin deg-deg an, tak pernah menyangka atau bahkan membayangkan dia mau dekat-dekat denganku.
“Kok belum pulang?” Katanya begitu sampai disebelahku
“Belum dijemput.” Jawabku sambil terus memandangi wajahnya begitu meneduhkan.
“Aku antar mau?”
Aku hanya diam mencoba mencerna semua yang dikatakannya barusan. Ini semua seperti mimpi. Tapi aku tak mungkin mengiyakan tawarannya, nenekku bisa ngamuk kalau tahu.
“Sebelumnya terima kasih tapi nggak usah nanti malah ngrepotin.”
“Nggak repot kok.”
“Enggak” bersamaan dengan itu jemputanku pun datang.
“Duluan ya kak.”
“Iya hati-hati.”
Aku pulang dengan hati yang berbunga-bunga. Ramadhan yang menyenangkan, tarawih yang mengesankan karena ada kamu disitu.
***



KKDS-group mmjn

NODA CINTA
Aku mengenalnya dari Ujian Tengah Semester beberapa bulan lalu. Dia adalah anak XII-S1 kakak kelasku, seperti biasa saat ujian kelas X digabung dengan kelas XII meski aku tak sebangku dengannya tetap saja kita sekelas. Sebenarnya aku tak mengenalnya, tapi gara-gara sikapnya itu membuat aku bertanya ke orang yang duduk disampingku. Saat guru jaga keluar kelas dia mulai cari perhatian yang nglempar penghapus lah, yang manggil-manggil namaku dan ini itu. Begitulah awal perkenalan kita. Dan sekarang kami menjadi pasangan.
“Coklat mau?” tanyanya seraya menyodorkan tangannya.
“Enggak” jawabku pendek
“Permen? Ini juga ada atau ini? Atau yang mana ambil aja.” dia masih mencoba menawarkan apa yang dia bawa, tangannya penuh dengan aneka macam makanan. Rupanya dia habis dari kantin.
“Enggak makasih.”
“Loh jangan gitu donk. Aku sengaja beli ini semua buat kamu.”
“Tapi aku nggak mau semua itu.”
“Kamu nggak suka ya? Terus kamu sukanya apa? Atau kita kekantin aja biar kamu bisa pilih mana yang kamu suka.”
“Enggak, aku mau disini aja. Keluar gih bentar lagi bel.”
“Tapi kan …”
Kringgg kringgg…
“Tuh udah bel, balik kekelas sana.”
“Nanti siang pulang bareng. Aku tunggu di depan kelas.” Ajaknya seraya menjauh dari bangku ku. Dia selalu begitu, bersikap berlebihan padaku.
***
“Aku anter ya?” ucap mukhlis saat melihatku sampai di depan kelasnya. Aku selalu melewati kelasnya karena memang kelas dia ada didekat kantor guru, satu-satunya jalan arah menuju gerbang sekolah sementara kelas aku ada dipaling ujung dekat kantin jadi lebih masuk kedalam.
“Enggak usah, aku sama temen aja. Aku du…”  Dia menarik pergelangan tanganku sebelum aku selesai melanjutkan kalimatku.
“Kamu kenapa sich? Aku serius sayang sama kamu.” Dia memang tak pernah lelah meyakinkanku tentang perasaannya dari dulu.
“Sekarang aku sulit untuk bisa mempercayaimu.”
“Tapi kenapa?”
“Sudahlah kak, sudah cukup semua permainanmu. Aku tahu kamu dan Fatimah pernah ada hubungan tapi itukan sudah berakhir beberapa waktu lalu dan aku juga sudah lelah dimarahin terus sama mantanmu itu. Dia selalu menuduhku kalau aku telah merebutmu dari dia. Dia itu masih sayang sama kamu. ” terangku seraya melepaskan genggaman tangannya.
Fatimah adalah teman SMP ku dan dia adalah tetangga Mukhlis sekaligus mantannya, ternyata mereka memliki hubungan special aku tahu itu saat awal masuk SMA ini.
“Tapi aku nggak. Dengerin aku dulu donk dek. Aku sudah tidak ada apa-apa dengannya.”
“Awalnya aku juga berfikir begitu, dia hanya masa lalumu. Tapi setelah aku tahu kamu balikan lagi sama dia dibelakangku aku sudah tak bisa percaya lagi denganmu.”
“Gak gitu dek.”
“Kamu tahu kan aku berusaha mati-matian agar mempunyai rasa yang sama denganmu dan kamu selalu meyakinkanku bahwa semua rasa sayangmu itu hanya untukku, kamu juga membuktikan itu. Tapi kenapa saat aku sudah bisa menerimamu dan menyayangimu kamu malah seperti ini? Dari yang tak ada rasa sampai menyayangimu itu bukan hal yang mudah harusnya kamu tau itu.” Dan seketika itu tangisku pun pecah. Sambil berlari aku mencoba menata hatiku, semua akan baik-baik saja meski sakitnya begitu menyiksa. Setelah semua yang telah kita lewati bersama apa makna dari semua ini, Pengorbananku tak dihargai dan cintaku pun telah dinodainya.


Bojonegoro, 30 Juni 2014
***

Kedungadem Bojonegoro dengan kode pos 62195 menjadi kota terlahirnya Neti Mandasari dengan nama pena Alzenni Manda. Jika ada yang sudi mengenalnya silahkan tengok di @MandaNetty atau di manda.net09@gmail.com

Based On True Story

Titik heroik penjual tempe dalam memoar

Aku suka dengan bahan makanan yang terbuat dari kedelai. Bukan tahu melainkan tempe. Aku menyukainya dan semua jenis olahan darinya. Makanan sederhana tapi memiliki rasa yang tak kalah dengan makanan mewah yang ada di restoran dan hotel berbintang. Awalnya bukan karena rasa yang membuatku tertarik padanya tapi karena kakekku adalah seorang penjual tempe keliling, bahkan beliau memproduksinya sendiri. Alasan yang sederhana namun mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Sebuah pekerjaan yang tak layak disebut profesi. Profesi itu beliau jalani selama belasan tahun. Tak ada kata mengeluh apalagi putus asa yang keluar dari mulutnya.
Sebelum matahari bersinar beliau sudah harus memulai semuanya. Disaat orang-orang menikmati tidur indahnya beliau malah harus bangun untuk menyiapkan dagangannya untuk berdagang besok. Tepat pukul 01.00 pagi beliau harus mencuci kedelai yang akan diproduksinya, kedelai itu harus benar-benar bersih agar tempe yang dihasilkan bisa sempurna. Setelah mencucinya kemudian beliau harus merendamnya dan masih banyak tahap-tahap yang masih harus dilalui untuk mendapatkan tempe yang terbaik.
Selepas subuh beliau harus berkeliling untuk menjual tempe-tempe tersebut. Dari satu kampung masuk ke kampung yang lain. Bahkan bisa sampai berpuluh-puluh kilometer beliau lewati dengan mengayuh sepeda ontel bututnya. Kendaraan yang tidak memiliki nilai jual tinggi tapi mampu membantunya dalam menghabiskan tempe-tempenya.
Meski harus berpeluh kesah melawan sengatan matahari dan bermandikan cucuran keringatitu semua tak dapat mengalahkan semangatnya, beliau masih bisa tersenyum entah itu dari hati atau simbolis dibibir saja. Dengan yakin beliau tetap melangkah karena menurut beliau, tak akan ada yang sia-sia jika kita mau terus berusaha dan berdo’a. Allah akan turun tangan membantunya.
Demi keluarga beliau mampu menjalankan tugasnempurna. Beliau tidak akan pernah pulang jika bahan makanan yang berwarna putih itu belum habis. Tak peduli panas ataupun hujan beliau terus mengayuh sepeda bututnya untuk menukarkan bahan makanan yang berwarna putih  itu dengan lembaran-lembaran rupiah, agar dapur nenek masih bisa mengepul setiap harinya. Tak banyak hasil yang diperoleh dari profesi penjual tempe keliling. Setiap harinya beliau hanya membawa beberapa lembar rupiah saja, bukan karena tidak laku semua tempe-tempenya tapi karena tak sedikit dari pembeli yang mengutang bahkan ada juga yang barter dengan beras,gandum ataupun yang lainnya.
Bagi beliau itu bukanlah masalah yang besar, yang terpenting Ia dan keluarga masih bisa bertahan dengan perolehan yang terbatas tersebut. Beliau termasuk sosok yang baik hati dan suka menolong orang lain. “orang kaya itu memang banyak tapi orang kaya yang tidak sombong dan suka berbagi itu tidak banyak”. Terlihat sekali bahwa beliau sangat mencintai profesinya saat ini. Pekerjaan yang sangat rumit, sangat menguras tenaga, namun hasil yang diperoleh tak seberapa besarnya dan kurasa tak ada orang yang mau menjalani profesi ini dijaman sekarang.
 “kenapa lebih memilih menjadi seorang penjual keliling dibanding pekerjaan yang lain? Padahal kebanyakan temen kakek jadi guru.” Tanyaku pada beliau
“karena dengan menjadi penjual tempe keliling kita bisa membantu orang lain, tak perlu menunggu kaya kita baru membantu orang lain. Selagi kita mampu kenapa tidak kita lakukan? Lagian kalau semua jadi guru, terus siapa yang akan menjual tempe.” Jelas beliau
“lalu kenapa kita harus memikirkan orang lain? padahal kakek juga masih kekurangan. Kebutuhan kakek juga masih banyak yang belum terpenuhi dengan baik.”
“jika kita selalu berpikir kurang maka selamanya kita akan selalu kekurangan. Jadi cukupkanlah apapun yang kau dapat.” Jawaban yang cukup membuatku terdiam untuk beberapa waktu.
            Aku kagum dengan sosok kurus dan tinggi ini, meski sebagian rambutnya sudah berubah warna tapi itu tidak menjadi pantangan bagi beliau. Tak banyak orang seperti beliau. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk berdiam diri dirumah menikmati masa senjanya dibandingkan harus banting tulang seperti itu. Hari-harinya dipenuhi dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Semua beliau lakukan sendirian.
            Bukan hal yang mudah. Menaklukkan terik mentari,bersahabat dengan debu jalanan dan menekan sang waktu agar tak cepat berlalu. Setiap beliau pulang ada guratan kelelahan yang terlihat diwajahnya namun dengan seketika guratan itu tergantikan dengan senyum kemenangan karena hari ini Ia mampu memenuhi tanggung jawabnya dengan baik meski harus berpeluh kesah.
            Aku bangga memilikinya. Seseorang yang begitu tangguh, penyabar dan tak pernah menyalahkan keadaan. Selalu bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan itulah yang selalu diajarkannya padaku. Beliau telah menjadi sosok yang patut dicontoh.
            Namun kini semua itu tinggal kenangan. Disaat segala sesuatunya sudah membaik, beliau tak dapat melihatnya. Harusnya saat ini beliau menikmati semua hasil jerih payahnya, berada ditengah-tengah kita dan menjalani semua bersama-sama. Tapi pada kenyataannya takdir berkata lain. Sang pencipta terlalu sayang pada beliau sehingga beliau diambil terlebih dahulu dibanding kami. Bagiku ini semua terlalu cepat tapi kenangan tentang beliau masih terekam jelas dalam memoryku. Kini setelah beliau tak ada semua menjadi begitu bermakna.
Selamat jalan kakek, semoga kau tenang di Surga. Terima kasih untuk semua yang telah engkau berikan kepada kami, perjuanganmu begitu berarti. Terima kasih telah menjadi panutan bagi kami dan terima kasih telah menjadikan anak dan cucumu tidak harus sepertimu. Do’a kami selalu mengalir untukmu.


***
 Event Penerbit Kunci, 28 Juli 2013

Dalam Buku Aku Yang Lain

AKU ADA KARENA PIKIRANKU

Tak banyak orang yang mengenalku, dalam hal ini maksud dari mengenal adalah benar-benar tahu karakter dan sifatku seperti apa bisa memahami dan mengertiku. Kebanyakan mereka hanya menilai dari sudut pandang yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Hanya segelintir orang yang bisa mengenaliku, seperti ibuku saja. Bahkan ayahku pun tak tahu karakter dan sifatku seperti apa.
Di mata teman-teman, aku itu orangnya tidak jelas, suka menyendiri, cewek manja, dan aneh. Aku bukannya tidak jelas, tapi mereka yang kurang bisa mengertiku apa yang aku maksudkan. Bukan pula suka menyendiri, hanya saja aku tak suka bergosip ria dengan mereka. Bagiku, tindakan itu hanya akan menambah puing-puing dosaku saja.
Pernah suatu ketika salah satu teman dekatku marah padaku gara-gara di sebuah forum aku menyampaikan ketidaksukaanku terhadap keterlambatan waktu. Dengan kata lain, aku memprotes mereka yang tidak bisa ontime.
Jujur, aku tidak suka sikap kamu tadi di forum, ucap Tita padaku.
Ada masalah? tanyaku.
Ya jelas ada, kamu itu orangnya tidak sabar dan pengertian. Kamu itu hanya duduk di sini, sedangkan mereka kesana-kemari mencari dana. Harusnya kamu itu bisa memahami keterlambatan mereka, bukan justru marah-marah seperti tadi, jelas Tita.
Aku tidak marah-marah, aku hanya tidak suka ketidakdisiplinan. Kalau mereka bisa menjadwalkan kapan kita rapat, seharusnya mereka juga bisa menepati apa yang telah mereka putuskan. Lagian kepentinganku juga bukan hanya di sini saja, jawabku mencoba membela diri.
Kamu tahu? Kamu sama saja seperti anak-anak, tidak bisa berfikir layaknya orang dewasa.
Terserah dengan apa yang kau katakan.”
Sebagai orang terdekatmu, aku tak ingin kamu seperti ini. Jangan labil, kelak kau akan malu sendiri dengan apa yang telah kau lakukan, nasihat Tita.
Sebagian tetangga menilai, aku itu orangnya sombong dan angkuh. Karena tak pernah mau berkumpul ataupun berbagi cerita bersama dengan mereka. Aku hanya menjaga diri dari fitnah. Apapun yang aku lakukan pemikiran mereka selalu negatif. Telinga ini terasa panas, bahkan terkadang darah ini mendidih seketika mendengar gunjingan mereka. Hingga tak jarang hal itu menimbulkan rasa nyeri di hatiku. Aku hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan sakit, aku lebih suka menghindar daripada terluka oleh omongan mereka.
Aku itu orangnya simple. Jika seseorang bisa memberiku gula, aku selalu berusaha untuk bisa memberikannya madu. Tapi jika seseorang itu memberikanku kopi, maka aku bisa memberikan sesuatu yang lebih pahit daripada kopi. Aku bukan tipe orang yang pelit. Aku itu orangnya mudah frustasi dan susah untuk bangkit lagi. Bagiku hal yang paling sulit adalah memulainya. Jika semua yang kubangun dengan susah payah kemudian hancur begitu saja, susah bagiku untuk mampu bangkit kembali. Susah bukan berarti tidak bisa, tapi susah itu butuh waktu yang dirasa cukup untuk mengembalikan semua energi positif, semangat, dan membangun kembali apa yang telah gagal.
Sisi lain yang aku punya adalah mudah tertarik dengan hal-hal baru. Tetapi juga mudah bosan dengan hal-hal tersebut, suka berbagi dan juga suka diperhatikan.
Tertarik dengan benda-benda yang aku nilai lucu dan unik, kemudian mengumpulkan satu persatu hingga menghasilkan kumpulan koleksi benda-benda menggemaskan. Semua itu adalah hal yang tak banyak diketahui orang lain, bahkan teman dekatku sendiri.
Jika salah satu sisi hatiku terluka, aku bisa menangis berapa lama pun itu pun. Tapi tidak di sembarang tempatlah.
Aku hanyalah orang yang mencoba menarik perhatian orang yang aku sayang dengan hal-hal yang tak pernah mereka duga. Aku hanya ingin merasakan bahwa aku tak hidup sendiri. Masih ada banyak orang yang peduli dan memberikan semua yang aku butuhkan termasuk perhatian mereka.
Terkadang aku menjadi sosok yang gampang terpengaruh dengan omong kosong orang lain, tapi terkadang aku juga bisa menjadi orang paling keras kepala.
Bagiku, menjadi diri sendiri itu lebih baik. Hal yang terpenting, aku akan selalu berupaya menjadi diri sendiri, sesuai dengan keadaanku. Tanpa perlu ada yang dibuat-buat maupun ditutupi. Karena, tindakan dan sikapku menjadi ada sebagai hasil dari segala keadaan yang ada dalam pikiranku. So, just be myself!

* * *


Neti Mandasari memiliki nama pena Alzenni Manda. Lahir di Bojonegoro, 17 Maret 1992. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di salah satu universitas swasta di Bojonegoro.  
(Event Penerbit Harfeey  yang pertama kali saya ikuti. Dalam Buku AyL bulan Mei 2013)

SEONGGOK HATI YANG TERLUKA


Matahari bersinar begitu terang, teriknya begitu menyengatku. Seakan dia tak rela kalau aku cepat-cepat sampai rumah. Tapi, semangatku tak boleh terkalahkan. Aku harus  bisa menaklukannya.
Kukayuh sepeda dengan cepat, tapi sepertinya ada yang aneh. Ada apa dengan sepedaku? Ada yang salah dengan bannya ternyata.
“Haduh... kok kempes di sini sih,” gerutuku. Terpaksa, tak ada jalan lain. Aku harus pulang dengan jalan kaki.
“Gimana mau cepet sampai rumah kalau begini keadaannya? Benar-benar cobaan puasa yang begitu sempurna kurasa,” keluhku sepanjang perjalanan.
Tiiiiitttt......tttiiittttt!!
Suara klakson meraung tiba-tiba tepat di telingaku. Aku terkejut setengah mati.
“Zulia, kok jalan. Sepedanya kenapa?”
Kucari dari mana arah suara itu berasal dan ternyata... “Ovan,” sahutku menjawab asal suara itu. “Iya, ini ban sepedaku kempes,” terangku.
Ovan adalah teman terbaikku, sekaligus orang yang mampu menduduki ruang kosong di hatiku setahun belakangan ini. Dia adalah sosok yang begitu menyenangkan dan perhatian. Setiap ada kesulitan, dia pun selalu ada untukku.
“Aku anterin saja, gimana? Sepedanya biar aku taruh di mobil sini. Lagi pula di sekitar sini sepertinya nggak ada bengkel,” bujuknya. Caring, seperti biasa.
“Nggak deh, makasih. Kesannya terus-terusan merepotkanmu.”
“Loh, kok repot, sih. Santai saja,” balas Ovan. “Udah yuk, buruan! Panas ini.”
Aku hanya mengangguk perlahan, dan menuruti permintaannya. Duduk berdampingan dengannya seperti saat ini, benar-benar hadiah terindah dan langka terjadi bagiku. Bahkan bibirku pun tak henti-hentinya menarik garis lengkung.
Tiba-tiba aku merasa tak rela jika waktu terlalu cepat berjalan. Tak rela kebersamaan ini akan segera berakhir. Ingin kumuntahkan kata-kata ini. Tapi, ada sesuatu yang membuat nyaliku selalu menciut tiap berada di dekatnya.
“Zul, nanti sore aku jemput ya?” Perkataan Ovan  membuyarkan lamunanku seketika.
“Mau ke mana, Van?”
“Jalan-jalan biasa, sambil nunggu waktu berbuka puasa juga. Mau?”
Aku terdiam. Tanpa ditanya pun, aku akan mengiyakan pinta itu. Tapi...
“Nanti aku yang ijin langsung ke Bunda deh. Kok kelihatannya takut gitu.”
Aku menoleh ke arahnya. Aneh. Seperti Ovan bisa membaca pikiranku begitu saja. Dia menatapku sekilas, sebelum kembali fokus ke jalan.
“Kalau diam, berarti setuju,” tambahnya lagi, bersama seulas senyumannya. Senyum yang menghangatkan.
***
Petang itu, sesuai dengan hal yang kuprediksikan. Aku yakin, Ovan pasti akan dengan mudah mendapat ijin dari Bunda. Tidak seperti teman-teman priaku lainnya. Tidak tahu pasti pula apa penyebabnya. Hanya pada Ovan, Bunda tidak se-over protected seperti biasanya. Maklum, hanya Bunda sosok single parent bagiku.
Pernah suatu ketika, Bunda mempertanyakan status hubunganku dengan Ovan. Karena kami memang benar-benar dekat, lebih dari teman. Tapi, entahlah... kenapa hingga detik ini pun kata-kata keramat yang kuantikan itu belum juga tersampaikan dari mulut Ovan. Jujur, hatiku selalu berharap ada tempat lebih di hatinya untuk segaris namaku. Dan, segala kebaikan yang telah dilakukannya, membuat rasa ini kian mengakar. Aku pun merasa tak perlu untuk membunuh rasa itu.
            Motor ovan berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang cukup besar.
“Kenapa ke toko buku, Van?” tanyaku, setelah menyadari bangunan apa itu.
“Masuk saja dulu, nanti juga kamu tahu,” jawab Ovan ringan. Dia pun menggenggam tanganku, memasuki toko buku itu. “Kamu tunggu sini, ya,” pintanya.
Tak selang berapa lama, Ovan kembali dengan sebuah buku yang disembunyikan di belakang badannya. Kemudian mengangsurkannya padaku, seraya berucap, “Ini buat kamu. Suka?”
“Untukku?” aku balik bertanya. Tak percaya dengan benda yang saat ini ada di tanganku. Sebuah novel yang selama ini selalu gagal dari radar pencarianku, kini dengan mudah meringkuk lemah di tanganku. Dari tangan Ovan tepatnya.
“Iya. Katanya penasaran sama isinya.”
“Wah.. aku jadi speechless gini, Van. Makasih banyak, ya,” ucapku girang.
Petang itu, segalanya tampak indah. Tapi saat perjalanan pulang, hujan deras mengubahnya. Ovan akhirnya memutuskan untuk berteduh dulu.
“Maaf ya Zul, sepertinya kita telat buka di rumah. Hujannya tambah lebat ini. Nggak mungkin juga kalau nekat kan?” ucap Ovan dengan nada menyesal.
“Iya, nggak apa-apa, Van. Nggak perlu minta maaf juga,” sahutku.
“Pakai ini, Zul! Biar kamu nggak kedinginan,” perintah Ovan, sambil memakaikan jaketnya ke badanku. “Aku nggak mau kamu jadi sakit gara-gara ini.”
Ovan memang satu-satunya orang, selain Bunda, yang tahu pasti tentang kondisi kesehatanku. Daya tahan tubuhku yang tak stabil, terkadang naik-turun tak beraturan.
Tiba-tiba Ovan bangkit dari duduknya. Dan, berlari melawan anak-anak hujan. Tanpa pamit padaku. Bahkan, suara teriakanku pun tak didengarnya. Selalu seperti ini, kebiasaan buruk Ovan yang tak kusuka. Selalu bersikap tanpa terduga, semaunya saja.  
Mulutku mengerucut. Bahkan, hingga saat Ovan tiba kembali. Rasanya ini perlu. Suatu bentuk protesku atas sikapnya tadi.
“Ini Zul. Kamu buka puasa pakai ini dulu, ya? Seadanya,” ucap Ovan, sambil menyodorkan sekantung plastik makanan ringan. Jadi, dia berlari payah tadi hanya demi ini. Keterluan! Membuat orang khawatir.
“Nggak mau. Aku buka di rumah aja,” jawabku dengan ketus.
“Nggak bisa, kamu harus makan ini! Biar perut kamu nggak kosong. Nanti masuk angin lagi.” Tanpa menunggu respon dariku, Ovan pun langsung menyuapiku. Terpaksa, akhirnya aku luluh juga.
“Besok kita ke taman, ya? Aku jemput kamu,” pinta Ovan. Lagi-lagi ajakan untuk keluar bersama. “Ada sesuatu yang harus kusampaikan. Nanti juga kamu tahu.”
Aku hanya mengangguk, walau beribu kata tanya melayang liar di benakku. Benar-benar penasaran. Apa mungkin Ovan akan menyampaikan kata keramat yang kunanti-nati selama ini? Yah, semoga saja.
***
“Ada apa sih, Van? Kenapa kita ke sini?” tanyaku bertubi-tubi. Siang itu, tepat di tengah taman kota. Bersama ribuan genderang yang bermain gaduh di hatiku.
“Aku mau kasih tahu kamu sesuatu. Ayo!”
Aku hanya melangkah, mengikuti geraknya dari belakang. Hingga Ovan berhenti tepat di depan seorang cewek. Membuatku semakin penasaran. Siapa dia?
“Zul, kenalin ini Zhara. Dan... Zhara, ini Zulia,” ucap Ovan memperkenalkan kami satu sama lain. Sementara cewek bernama Zhara itu pun mengangsurkan tangannya ke arahku, memaksaku untuk menyambutnya.
“Jadi ini, yang namanya Zulia? Adik angkat yang kamu ceritakan itu kan, Van?” tanya Zhara. Senyum hangat pun terpancar dari wajahnya.
“Adik angkat?” tanyaku, seakan tak yakin dengan apa yang baru saja kudengar.
“Zul, Zhara ini pacar aku. Selama ini dia kuliah di luar kota. Dan, kebetulan sekarang ini dia lagi liburan. Makanya bisa ada di sini,” terang Ovan dengan santai.
Aku tak percaya. Kenapa Ovan baru sekarang memperkenalkan kekasihnya, kalau dia sudah berhubungan sejak lama? Lalu, apa maksud semua perhatiannya selama ini? Setiap hari aku berusaha menyusun pengharapan yang sama, suatu saat dia akan seutuhnya menjadi milikku. Sayang, dalam hitungan detik, segala harapan itu hancur.
Semua ini, terasa begitu menyakitkan bagiku.
“Zul... Zul, kamu baik-baik saja?” panggil Ovan, membuatku tersadar harus kembali ke kenyataan.
“Maaf Van, aku pulang duluan,” ucapku seraya meninggalkannya. Tanpa menunggu persetujuannya. Karena, tak ada lagi harapan sama. Baginya maupun bagiku.

***


EVER BE WAIT YOU


Betapa bahagianya saat aku dan kamu bisa menjadi kita. Menjalin hubungan sebagai kekasihmu adalah sebuah impian yang tak mungkin bisa terwujud, tapi Tuhan berkehendak lain. Impian itu kini menjadi sebuah kenyataan yang harus kujalani. Kamu yang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat dan mendadak menjadi sosok pendiam ketika berada di dekatmu. Kamu yang mampu membuatku gila dengan semua perasaan ini.
Dari senyuman, kuawali perkenalanku denganmu. Dan, dari senyuman pula kau mampu mencuri perhatianku. Ditambah lagi dengan postur tubuhmu yang kutilang, membuat rasa ketertarikan ini semakin jelas. Rasa itu semakin bertambah saat kau mulai memberikan semua perhatianmu untukku. Semua pesanmu selalu memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan sepele. Bagi orang lain mungkin itu konyol. Tapi bagiku, itulah bentuk perhatian yang teramat kusuka. Hingga akhirnya, sesuatu hal mengharuskanmu untuk pergi. Demi alasan kelanjutan studi yang diidam-idamkan oleh mereka, kedua orang tuamu. Begitulah alasanmu, alasan baik menurutmu. Tapi tidak bagiku. Jujur, karna aku tak menginginkan begitu. Jauh. Terdampar dalam kesendirian.
Tiga tahun lebih aku disini menunggu. Selalu berharap kelak kau akan kembali, tanpa berkurang suatu hal apapun. Terkadang aku berfikir, menjadi bagian dari hidupmu adalah sebuah hadiah terindah. Bisa menjalani hari-hari bersamamu, menghabiskan seluruh waktuku hanya denganmu. Bukankah itu terasa sangat menyenangkan?
Sayang.... kenyataan berkata tidak. Aku kembali harus bersapa mesra dalam ribuan aura penantian. Menunggumu terjaga dari segala kesibukan. Kau kembali dengan kesibukan yang tak pernah berujung. Bekerja dari pagi hingga menjelang malam, itulah rutinitas harianmu yang sungguh terasa memuakkan. Maaf!
* * *
Tulalit... tulalit,,,.
Terputus lagi, terputus lagi. Selalu saja ada gangguan tiap menghubungimu. Kuletakkan barang mungil itu begitu saja. Pasrah.
Hingga saat ini masih belum kutemukan jawaban dari semua pertanyaanku. Tak pernah kutau, kenapa aku bisa sesabar ini padamu? Kamu yang selalu dan terus membuatku menunggu. Pernahkah kau berfikir, betapa lelahnya menunggu itu? Atau memang kau tak pernah merasakan bagaimana dan seperti apa menunggu itu. Aku selalu terkalahkan dengan kesibukkanmu.
Tak sedikit orang yang menganggapku bodoh. Bertahan hanya untuk menunggu, dan terus menunggu. Tapi aku tak pernah menghiraukannya, karena bagiku semua penantian ini akan terbayar mahal. Dan, perjuangan untuk selalu menunggumu pasti akan ada ujungnya.
 “Kenapa Sa, kok wajahnya bĂȘte gitu?” tanya  Kak Mei padaku.
Aku nggak papa.
Yakin?”
Aku sebel sama Shaun.
Shaun adalah panggilan sayangku pada Zirda, seseorang yang selalu membuatku menunggu.
Kenapa?”
Sore ini katanya ngajakin keluar. Tapi sampe sekarang nggak dateng-dateng.
Tungguin aja dulu. Siapa tau dia masih ada urusan, jadinya telat. Sudah kamu hubungi belum?”
Sudah. Tapi nggak bisa dihubungi, sahutku lagi, di ujung helaan napas.
Sabar, deh. Nanti juga datang. Kakak mau nyusul Ibu ke rumah Budhe dulu, ya.”
“Iya, jawabku singkat.
“Jangan lupa nanti pintunya dikunci, kalau jadi pergi! ucap Kak Mei dengan penekanan pada kata ‘pergi’. Dia pun tersenyum mengejek. Seakan-akan dia yakin sekali kalau aku tidak jadi pergi juga akhirnya.
Iya, bawel, jawabku sengit. Panas juga melihat tingkahnya.
Kring... kriiiiingggg.
Pasti itu Shaun,” pikirku dalam hati. Segera kuhampiri benda mungil itu dengan penuh harap.
Namun, pias seketika. Ternyata nama Dira yang tertera pada layar ponselku. Bukan Shaun. Bukan seseorang yang pantas menjawab penantianku sedari tadi.
Ada apa, Dir?” tanyaku kemudian, setelah menekan keypad accept untuk menerimanya.
“Sa, lagi ada acara nggak? Hange-out sama temen-temen yuk!sahut suara di seberang. Mulutku mengerucut, sebal. Apa asyiknya jalan-jalan, jika pikiran ini tak mau beralih dari satu nama... just for Shaun!
Aku nggak bisa, Dir,” tolakku sehalus mungkin.
Oh... ya sudah kalau begitu. Bye Sa, sahut Dira pengertian. Sepertinya dia tahu kondisi mood-ku yang tengah menurun saat ini.
“Iya... maaf ya, teman. Dan, klik... sambungan itu pun terputus.
Waktu telah menunjukkan pukul 17.58, tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau kamu akan menepati janjimu. Kuputuskan untuk berganti pakaian, karena kupikir tak mungkin lagi kau datang menjemputku. Mau nyusul ke rumah Budhe juga malas, jadi lebih baik menjadi satpam di rumah saja. Menikmati kesendirian bersama kicauan kacau acara televisi saat ini.
Tak berselang lama, tiba-tiba terdengar suara deru motor matic. Dan, sepertinya suara itu mengarah ke dalam pekarangan rumahku. Benarkah dia? Rasanya jantungku semakin giat berdetak. Cepat, tanpa lelah.
Tanpa berpikir panjang lagi, segera kularikan kaki ini menuju pintu depan. Menyapa rasa penasaran, memastikan jawaban pastinya. Ternyata... ah, bukan dia! Dan, memang bukan dia. Bukan saatnya senyumku mengudara saat ini.
Aku tak percaya, bahwa kisahku akan berjalan seperti ini. Layaknya sebuah dongeng, dimana sang putri harus sabar menunggu hingga sang pangeran datang menjemputnya. Tapi, entah sampai kapan penantian ini akan berakhir. Satu hal yang pasti... aku akan melakukan segalanya, apapun itu, dengan hatiku. Demi menunggumu.
* * *

Dalam buku Menunggu #2 (Lelah dalam durasi) 
Penerbit Harfeey
2013

Shaun adalah panggilan kesayangan untuk dia. Dia yang tak pernah sekalipun berhasil kutemui. Dia yang saat ini masih berjuang mendapatkan gelar Sarjana Teknik-nya. 
Meski kini jalan kita berbeda semoga semua yang kamu impikan tercapai.
dan Aku masih menunggu kamu menepati janji yang akan mengajakku jalan dengan motor CB yang kamu rangka senidiri itu.