DURASI
MEMOAR
“Mar,
buruan sudah ditungguin anak-anak ini” suara Tita disebrang sana
“Iya
ini lagi otw kesana”
“Ya
sudah. Jangan lama-lama ya” ucap Tita sebelum pembicaraan kami ditelepon benar-benar terputus
Tap tap tap….
Kupacu
langkahku secepat mungkin. Dengan membawa beberapa buku ditangan dan keperluan
lain yang kita butuhkan untuk mengerjakan tugas dari kampus, semua barang ini
membuatku tanganku penuh dan agak susah
untuk sampai ketujuan dengan cepat. Sebenarnya aku butuh bantuin seseorang untuk
membantu membawakan semua ini. Aku berjalan dengan terburu-buru tak ingin
teman-temanku terlalu lama menungguku.
Bruukkk…
“Aw,eh
kalau jalan lihat-lihat donk. Punya mata gak sih”
“Maaf
maaf nggak sengaja” ucapku seraya membereskan semua barang-barang yang aku bawa
tanpa melihat siapa orang yang aku tabrak.
“Loh
Ta, kamu ternyata” orang yang aku tabrak belum pergi ternyata fikirku. Aku
segera mendongak untuk melihat siapa orang itu.
“Hey
Ga, kok belum pulang? ” tanyaku sambil tetap focus pada barang bawaanku yang
berantakan dilantai
“Iya
ini baru mau pulang habis ketemu bokap”
“Berantem
lagi? eh sorry ya aku buru-buru soalnya”
“Iya
gak pa-pa, aku bantuin ya. Kamu juga kok belum pulang, buru-buru lagi mau
kemana?”
“Ini
mau bikin tugas dari pak Mahmud, biasa disuruh praktek gitu”
“Sini
aku bantuin bawa, biar nggak jatuh lagi”
“Nggak
usah ngrepotin ntar”
“Nggak
pa-pa lagian aku nggak buru-buru kok. Dibawa kemana ini?”
“Ke
aula, makasih ya Ga”
“iya”
Kami
berjalan berdampingan, dengan tangan yang penuh barang-barang. Berada
didekatnya membuat jantungku berdetak semakin gencar. Tak bisa ku pungkiri
bahwa aku menyayanginya. Entah sejak kapan. Seringnya bertemu dan berkomunikasi
dengannya membuat aku dan dia semakin akrab. Jalan bareng dab berbagi tentang
semua hal termasuk keinginan papanya. Dia adalah orang yang menyenangkan, meski
dia terlahir dari keluarga yang berada dia tak pernah memilih untuk berteman.
Menurut dia semua orang di dunia itu sama saja yang membedakan mereka bukanlah
status sosialnya melainkan amal perbuatannya. Selain penampilan fisik
rupawannya yang menambah nilai plus pada dirinya adalah dia memiliki jiwa
social yang tinggi. Ingin sekali ku hentikan waktu dalam beberapa lama agar aku
bisa lebih lama menikmati pemandangan makhluk indah ciptaan-NYA ini.
“Ta,
besok aku mau ke Taman bacaan mau ikut nggak?”
Aku
masih asyik dengan dunia imajinasiku hingga tak memperdulikan perkataan Yoga.
“Maretha”
panggilnya kembali setelah tak mendapatkan jawaban dariku
“Eh
iya, kenapa Ga?” tanyaku gelagapan
“Besok
aku mau ke taman baca, kamu mau ikut apa enggak?”
“Memangnya
aku boleh ikut?”
“Ya
boleh lah, so gimana?”
“Iya
dech aku ikut”
“Besok
aku jemput kerumah kamu okey.”
Pembicaraan
kami pun berakhir sampai disitu karena tempat yang kami tuju pun sudah ada di
depan mata.
“Makasih
ya sudah mau repot-repot bantuin”
“Iya
sama-sama”
“Aku
masuk dulu temen-temen sudah nungguin”
“Silahkan”
ucapnya seraya membungkuk dan tangannya mempersilahkanku, layaknya yang
dilakukan pengawal kepada sang putri.
***
“Tapi
menjadi seorang dokter bukanlah keinginanku pa, aku punya cita-cita dan mimpi
yang kubangun sendiri”
Suara
itu tak asing lagi bagiku, itu suara Yoga. Suara itu berasal dari ruangan pak
rector.
“Tapi
amanat almarhumah mama kamu menginginkan kamu menjadi seorang dokter yang
hebat”
“Tapi,
pa”
“Sudah
tidak ada tapi-tapian lagi. Kamu harus tetap menjadi seorang dokter seperti
keinginan almarhumah mamamu. Lusa kamu harus berangkat ke Australia, papa sudah
daftarkan kamu disana.” Ucap papanya sebelum meninggalkan Yoga diruangan itu.
Dengan
ragu-ragu aku memasuki ruangan itu, pak rector sudah tidak ada disana. Entah
kemana perginya setelah memaksa Yoga untuk menuruti kemauannya. Kudapati tubuh
jangkung itu sedang berdiri di dekat jendela, pandangannya masih berpusat
keluar jendela entah apa yang dilihatnya. Bahkan aku tak yakin kalau dia
benar-benar menikmati keindahan apa yang dia lihat itu.
“Ga,”
panggilku seraya memegang pundaknya
“Hey
Ta” dia kaget, dan mencoba untuk tetap tegar
“Are
you okay?”
“Enggak
Ta, papa masih tetap memaksaku untuk menjadi seorang dokter. Kamu tau betul
kalau itu bukan keinginanku”
“Iya
aku tahu, kamu ingin sekali menjadi seorang arsitektur. Tapi, tidak ada
salahnya kan kamu mengikuti keinginan orang tuamu?”
“Tidak
Ta, kalau aku mengikuti keinginan mereka sama saja aku dengan sebuah robot. Aku
bisa menjalani profesi sebagai seorang dokter tapi hatiku pasti akan
menolaknya, setiap hari aku harus menenangkan hatiku bahwa ini semua akan
berakhir. Lagipula kalau tetap dipaksakan hasilnya tidak akan bisa maksimal.”
“Apa
kamu tidak ingin membahagiakan mereka? kamu adalah anak satu-satunya mereka,
bukankah selalu berbakti dan membahagiakan orang tua itu adalah keinginanmu.
Cobalah mengalah untuk kebahagiaan mereka Ga, meski itu harus mengorbankan
cita-citamu. Aku tahu kamu adalah orang yang bijak, dan aku yakin kamu pasti
bisa menentukan pilihan yang terbaik”
Aku
meninggalkannya. Aku rasa dia butuh waktu untuk sendiri. Menentukan jalan mana
yang harus dia ambil bukan hal yang mudah. Apa aku akan kehilangan dia jika dia
menuruti keinginan orang tuanya. Aku belum siap melepasnya.
***
Kringg
kringgg…
“Halo”
“Mar,
Yoga gak ada dia kecelakaan”
Suara
di ujung sana membuatku mendadak lemas. Aku masih tak percaya dengan apa yang
ku dengar ku coba untuk meyakinkan diriku bahwa aku salah dengar.
“Jangan
bercanda Tita, tadi aku ketemu dia diruang pak rector”
“Ini
serius Mar, tadi pas mau pulang dia tabrakan sama mobil”
Enggak
Tita pasti bohong Yoga belum meninggal, ini pasti bohong. Tak ingin dipermainkan
dengan keadaan dan pemikiran seperti ini aku segera kerumah Yoga. Dan ternyata
betapa terpukulnya aku bahwa sesosok mayat di hadapanku adalah Yoga. Tak ada
kata yang mampu ku ucap. Kenapa dia pergi secepat ini. Aku mencintainya Ya
Robb, kenapa kau ambil dia secepat ini. bahkan aku belum sempat mengatakan
padanya bahwa aku sangat menyayanginya. Aku tak mengira Tadi diruang rector
adalah pembicaraan kami yang terakhir. Mungkin ini memang yang terbaik, dan
mungkin kini dia bahagia bertemu mamanya disana. Semoga kelak kita bertemu
disurga .
***
About Me
Alzenni Manda, penulis saat ini berdomisili
di Bojonegoro, Jawa Timur. Saat ini masih berstatus Mahasiswa di salah satu Universitas Swasta
yang ada di kotanya. Pembaca bisa menemuinya di akun
pribadinya. FB: Manda Netti