Cursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Jumat, 29 April 2016

Based On True Story

Titik heroik penjual tempe dalam memoar

Aku suka dengan bahan makanan yang terbuat dari kedelai. Bukan tahu melainkan tempe. Aku menyukainya dan semua jenis olahan darinya. Makanan sederhana tapi memiliki rasa yang tak kalah dengan makanan mewah yang ada di restoran dan hotel berbintang. Awalnya bukan karena rasa yang membuatku tertarik padanya tapi karena kakekku adalah seorang penjual tempe keliling, bahkan beliau memproduksinya sendiri. Alasan yang sederhana namun mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Sebuah pekerjaan yang tak layak disebut profesi. Profesi itu beliau jalani selama belasan tahun. Tak ada kata mengeluh apalagi putus asa yang keluar dari mulutnya.
Sebelum matahari bersinar beliau sudah harus memulai semuanya. Disaat orang-orang menikmati tidur indahnya beliau malah harus bangun untuk menyiapkan dagangannya untuk berdagang besok. Tepat pukul 01.00 pagi beliau harus mencuci kedelai yang akan diproduksinya, kedelai itu harus benar-benar bersih agar tempe yang dihasilkan bisa sempurna. Setelah mencucinya kemudian beliau harus merendamnya dan masih banyak tahap-tahap yang masih harus dilalui untuk mendapatkan tempe yang terbaik.
Selepas subuh beliau harus berkeliling untuk menjual tempe-tempe tersebut. Dari satu kampung masuk ke kampung yang lain. Bahkan bisa sampai berpuluh-puluh kilometer beliau lewati dengan mengayuh sepeda ontel bututnya. Kendaraan yang tidak memiliki nilai jual tinggi tapi mampu membantunya dalam menghabiskan tempe-tempenya.
Meski harus berpeluh kesah melawan sengatan matahari dan bermandikan cucuran keringatitu semua tak dapat mengalahkan semangatnya, beliau masih bisa tersenyum entah itu dari hati atau simbolis dibibir saja. Dengan yakin beliau tetap melangkah karena menurut beliau, tak akan ada yang sia-sia jika kita mau terus berusaha dan berdo’a. Allah akan turun tangan membantunya.
Demi keluarga beliau mampu menjalankan tugasnempurna. Beliau tidak akan pernah pulang jika bahan makanan yang berwarna putih itu belum habis. Tak peduli panas ataupun hujan beliau terus mengayuh sepeda bututnya untuk menukarkan bahan makanan yang berwarna putih  itu dengan lembaran-lembaran rupiah, agar dapur nenek masih bisa mengepul setiap harinya. Tak banyak hasil yang diperoleh dari profesi penjual tempe keliling. Setiap harinya beliau hanya membawa beberapa lembar rupiah saja, bukan karena tidak laku semua tempe-tempenya tapi karena tak sedikit dari pembeli yang mengutang bahkan ada juga yang barter dengan beras,gandum ataupun yang lainnya.
Bagi beliau itu bukanlah masalah yang besar, yang terpenting Ia dan keluarga masih bisa bertahan dengan perolehan yang terbatas tersebut. Beliau termasuk sosok yang baik hati dan suka menolong orang lain. “orang kaya itu memang banyak tapi orang kaya yang tidak sombong dan suka berbagi itu tidak banyak”. Terlihat sekali bahwa beliau sangat mencintai profesinya saat ini. Pekerjaan yang sangat rumit, sangat menguras tenaga, namun hasil yang diperoleh tak seberapa besarnya dan kurasa tak ada orang yang mau menjalani profesi ini dijaman sekarang.
 “kenapa lebih memilih menjadi seorang penjual keliling dibanding pekerjaan yang lain? Padahal kebanyakan temen kakek jadi guru.” Tanyaku pada beliau
“karena dengan menjadi penjual tempe keliling kita bisa membantu orang lain, tak perlu menunggu kaya kita baru membantu orang lain. Selagi kita mampu kenapa tidak kita lakukan? Lagian kalau semua jadi guru, terus siapa yang akan menjual tempe.” Jelas beliau
“lalu kenapa kita harus memikirkan orang lain? padahal kakek juga masih kekurangan. Kebutuhan kakek juga masih banyak yang belum terpenuhi dengan baik.”
“jika kita selalu berpikir kurang maka selamanya kita akan selalu kekurangan. Jadi cukupkanlah apapun yang kau dapat.” Jawaban yang cukup membuatku terdiam untuk beberapa waktu.
            Aku kagum dengan sosok kurus dan tinggi ini, meski sebagian rambutnya sudah berubah warna tapi itu tidak menjadi pantangan bagi beliau. Tak banyak orang seperti beliau. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk berdiam diri dirumah menikmati masa senjanya dibandingkan harus banting tulang seperti itu. Hari-harinya dipenuhi dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Semua beliau lakukan sendirian.
            Bukan hal yang mudah. Menaklukkan terik mentari,bersahabat dengan debu jalanan dan menekan sang waktu agar tak cepat berlalu. Setiap beliau pulang ada guratan kelelahan yang terlihat diwajahnya namun dengan seketika guratan itu tergantikan dengan senyum kemenangan karena hari ini Ia mampu memenuhi tanggung jawabnya dengan baik meski harus berpeluh kesah.
            Aku bangga memilikinya. Seseorang yang begitu tangguh, penyabar dan tak pernah menyalahkan keadaan. Selalu bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan itulah yang selalu diajarkannya padaku. Beliau telah menjadi sosok yang patut dicontoh.
            Namun kini semua itu tinggal kenangan. Disaat segala sesuatunya sudah membaik, beliau tak dapat melihatnya. Harusnya saat ini beliau menikmati semua hasil jerih payahnya, berada ditengah-tengah kita dan menjalani semua bersama-sama. Tapi pada kenyataannya takdir berkata lain. Sang pencipta terlalu sayang pada beliau sehingga beliau diambil terlebih dahulu dibanding kami. Bagiku ini semua terlalu cepat tapi kenangan tentang beliau masih terekam jelas dalam memoryku. Kini setelah beliau tak ada semua menjadi begitu bermakna.
Selamat jalan kakek, semoga kau tenang di Surga. Terima kasih untuk semua yang telah engkau berikan kepada kami, perjuanganmu begitu berarti. Terima kasih telah menjadi panutan bagi kami dan terima kasih telah menjadikan anak dan cucumu tidak harus sepertimu. Do’a kami selalu mengalir untukmu.


***
 Event Penerbit Kunci, 28 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar