Titik heroik penjual tempe dalam memoar
Aku suka dengan bahan makanan yang terbuat dari kedelai. Bukan tahu
melainkan tempe. Aku menyukainya dan semua jenis olahan darinya. Makanan
sederhana tapi memiliki rasa yang tak kalah dengan makanan mewah yang ada di
restoran dan hotel berbintang. Awalnya bukan karena rasa yang membuatku
tertarik padanya tapi karena kakekku adalah seorang penjual tempe keliling,
bahkan beliau memproduksinya sendiri. Alasan yang sederhana namun mampu
meninggalkan kesan yang mendalam. Sebuah pekerjaan yang tak layak disebut
profesi. Profesi itu beliau jalani selama belasan tahun. Tak ada kata mengeluh
apalagi putus asa yang keluar dari mulutnya.
Sebelum matahari bersinar beliau sudah harus memulai semuanya. Disaat
orang-orang menikmati tidur indahnya beliau malah harus bangun untuk menyiapkan
dagangannya untuk berdagang besok. Tepat pukul 01.00 pagi beliau harus mencuci
kedelai yang akan diproduksinya, kedelai itu harus benar-benar bersih agar
tempe yang dihasilkan bisa sempurna. Setelah mencucinya kemudian beliau harus
merendamnya dan masih banyak tahap-tahap yang masih harus dilalui untuk
mendapatkan tempe yang terbaik.
Selepas subuh beliau harus berkeliling untuk menjual tempe-tempe tersebut.
Dari satu kampung masuk ke kampung yang lain. Bahkan bisa sampai berpuluh-puluh
kilometer beliau lewati dengan mengayuh sepeda ontel bututnya. Kendaraan yang
tidak memiliki nilai jual tinggi tapi mampu membantunya dalam menghabiskan
tempe-tempenya.
Meski harus berpeluh kesah melawan sengatan matahari dan bermandikan
cucuran keringatitu semua tak dapat mengalahkan semangatnya, beliau masih bisa
tersenyum entah itu dari hati atau simbolis dibibir saja. Dengan yakin beliau
tetap melangkah karena menurut beliau, tak akan ada yang sia-sia jika kita mau
terus berusaha dan berdo’a. Allah akan turun tangan membantunya.
Demi keluarga beliau mampu menjalankan tugasnempurna. Beliau tidak akan
pernah pulang jika bahan makanan yang berwarna putih itu belum habis. Tak
peduli panas ataupun hujan beliau terus mengayuh sepeda bututnya untuk
menukarkan bahan makanan yang berwarna putih
itu dengan lembaran-lembaran rupiah, agar dapur nenek masih bisa
mengepul setiap harinya. Tak banyak hasil yang diperoleh dari profesi penjual tempe
keliling. Setiap harinya beliau hanya membawa beberapa lembar rupiah saja,
bukan karena tidak laku semua tempe-tempenya tapi karena tak sedikit dari
pembeli yang mengutang bahkan ada juga yang barter dengan beras,gandum ataupun
yang lainnya.
Bagi beliau itu bukanlah masalah yang besar, yang terpenting Ia dan
keluarga masih bisa bertahan dengan perolehan yang terbatas tersebut. Beliau
termasuk sosok yang baik hati dan suka menolong orang lain. “orang kaya itu
memang banyak tapi orang kaya yang tidak sombong dan suka berbagi itu tidak
banyak”. Terlihat sekali bahwa beliau sangat mencintai profesinya saat ini.
Pekerjaan yang sangat rumit, sangat menguras tenaga, namun hasil yang diperoleh
tak seberapa besarnya dan kurasa tak ada orang yang mau menjalani profesi ini
dijaman sekarang.
“kenapa lebih memilih menjadi
seorang penjual keliling dibanding pekerjaan yang lain? Padahal kebanyakan
temen kakek jadi guru.” Tanyaku pada beliau
“karena dengan menjadi penjual tempe keliling kita bisa membantu orang
lain, tak perlu menunggu kaya kita baru membantu orang lain. Selagi kita mampu
kenapa tidak kita lakukan? Lagian kalau semua jadi guru, terus siapa yang akan
menjual tempe.” Jelas beliau
“lalu kenapa kita harus memikirkan orang lain? padahal kakek juga masih
kekurangan. Kebutuhan kakek juga masih banyak yang belum terpenuhi dengan
baik.”
“jika kita selalu berpikir kurang maka selamanya kita akan selalu
kekurangan. Jadi cukupkanlah apapun yang kau dapat.” Jawaban yang cukup membuatku
terdiam untuk beberapa waktu.
Aku kagum dengan sosok kurus dan tinggi
ini, meski sebagian rambutnya sudah berubah warna tapi itu tidak menjadi
pantangan bagi beliau. Tak banyak orang seperti beliau. Kebanyakan dari mereka
lebih memilih untuk berdiam diri dirumah menikmati masa senjanya dibandingkan
harus banting tulang seperti itu. Hari-harinya dipenuhi dengan bekerja, bekerja
dan bekerja. Semua beliau lakukan sendirian.
Bukan hal yang mudah. Menaklukkan
terik mentari,bersahabat dengan debu jalanan dan menekan sang waktu agar tak
cepat berlalu. Setiap beliau pulang ada guratan kelelahan yang terlihat
diwajahnya namun dengan seketika guratan itu tergantikan dengan senyum
kemenangan karena hari ini Ia mampu memenuhi tanggung jawabnya dengan baik
meski harus berpeluh kesah.
Aku bangga memilikinya. Seseorang
yang begitu tangguh, penyabar dan tak pernah menyalahkan keadaan. Selalu
bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan itulah yang selalu
diajarkannya padaku. Beliau telah menjadi sosok yang patut dicontoh.
Namun kini semua itu tinggal
kenangan. Disaat segala sesuatunya sudah membaik, beliau tak dapat melihatnya.
Harusnya saat ini beliau menikmati semua hasil jerih payahnya, berada
ditengah-tengah kita dan menjalani semua bersama-sama. Tapi pada kenyataannya
takdir berkata lain. Sang pencipta terlalu sayang pada beliau sehingga beliau
diambil terlebih dahulu dibanding kami. Bagiku ini semua terlalu cepat tapi
kenangan tentang beliau masih terekam jelas dalam memoryku. Kini setelah beliau
tak ada semua menjadi begitu bermakna.
Selamat jalan kakek, semoga kau tenang di Surga. Terima kasih untuk semua
yang telah engkau berikan kepada kami, perjuanganmu begitu berarti. Terima
kasih telah menjadi panutan bagi kami dan terima kasih telah menjadikan anak
dan cucumu tidak harus sepertimu. Do’a kami selalu mengalir untukmu.
***
Event Penerbit Kunci, 28 Juli 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar