AKU ADA KARENA PIKIRANKU
Tak banyak orang yang
mengenalku, dalam hal ini maksud dari ‘mengenal’ adalah benar-benar tahu karakter dan sifatku seperti apa bisa
memahami dan mengertiku. Kebanyakan
mereka hanya menilai dari sudut pandang yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Hanya
segelintir orang yang bisa mengenaliku,
seperti ibuku saja. Bahkan ayahku pun tak tahu karakter dan sifatku seperti apa.
Di mata teman-teman, aku itu orangnya tidak jelas, suka menyendiri, cewek manja, dan aneh. Aku bukannya tidak jelas, tapi mereka yang kurang bisa mengertiku apa yang aku
maksudkan. Bukan pula suka menyendiri, hanya saja aku tak suka bergosip ria dengan mereka.
Bagiku, tindakan
itu hanya akan menambah puing-puing dosaku saja.
Pernah suatu ketika
salah satu teman dekatku marah padaku gara-gara di sebuah forum aku menyampaikan ketidaksukaanku
terhadap keterlambatan waktu. Dengan kata lain, aku memprotes mereka yang tidak bisa ontime.
“Jujur, aku tidak suka sikap kamu tadi di forum,” ucap Tita padaku.
“Ada masalah?” tanyaku.
“Ya jelas ada, kamu itu orangnya tidak sabar dan
pengertian. Kamu itu hanya duduk di sini, sedangkan mereka kesana-kemari mencari dana. Harusnya kamu itu
bisa memahami keterlambatan mereka,
bukan justru
marah-marah seperti
tadi,” jelas Tita.
“Aku tidak marah-marah, aku hanya tidak suka ketidakdisiplinan. Kalau mereka bisa menjadwalkan kapan kita
rapat,
seharusnya mereka juga bisa menepati apa
yang telah mereka putuskan.
Lagian
kepentinganku juga bukan hanya di sini
saja,” jawabku mencoba membela diri.
“Kamu tahu? Kamu sama saja seperti anak-anak,
tidak bisa berfikir layaknya orang dewasa.”
“Terserah dengan apa yang kau katakan.”
“Sebagai orang terdekatmu, aku tak ingin kamu seperti ini. Jangan labil, kelak kau akan malu sendiri dengan apa yang
telah kau lakukan,” nasihat Tita.
Sebagian tetangga
menilai,
aku itu orangnya sombong dan angkuh.
Karena
tak pernah mau berkumpul ataupun berbagi cerita bersama dengan mereka. Aku hanya menjaga diri dari fitnah.
Apapun yang aku lakukan pemikiran mereka selalu negatif. Telinga ini terasa
panas, bahkan terkadang darah
ini mendidih seketika mendengar gunjingan mereka. Hingga tak jarang hal itu menimbulkan
rasa nyeri di hatiku.
Aku hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan sakit, aku lebih suka menghindar
daripada terluka oleh omongan mereka.
Aku itu orangnya simple. Jika seseorang bisa memberiku
gula, aku selalu berusaha
untuk bisa
memberikannya madu. Tapi jika seseorang
itu memberikanku kopi, maka aku
bisa memberikan sesuatu yang lebih pahit daripada kopi. Aku bukan tipe orang
yang pelit. Aku itu orangnya mudah frustasi dan susah untuk bangkit lagi.
Bagiku hal yang paling sulit adalah memulainya. Jika semua yang kubangun dengan
susah payah kemudian hancur begitu saja, susah bagiku untuk mampu bangkit kembali. Susah bukan berarti tidak bisa,
tapi susah itu butuh waktu yang dirasa cukup untuk mengembalikan semua energi positif, semangat, dan membangun kembali apa yang telah
gagal.
Sisi lain yang aku
punya adalah mudah tertarik dengan hal-hal baru. Tetapi juga mudah bosan dengan
hal-hal tersebut, suka berbagi dan juga
suka
diperhatikan.
Tertarik dengan
benda-benda yang aku nilai lucu dan unik, kemudian mengumpulkan satu persatu
hingga menghasilkan kumpulan koleksi benda-benda menggemaskan. Semua itu adalah hal yang tak banyak
diketahui orang lain, bahkan teman
dekatku sendiri.
Jika salah satu sisi hatiku
terluka,
aku bisa menangis berapa lama pun
itu pun. Tapi
tidak di sembarang tempatlah.
Aku hanyalah orang yang
mencoba menarik perhatian orang yang aku sayang dengan hal-hal yang tak pernah
mereka duga. Aku hanya ingin merasakan bahwa aku tak hidup sendiri. Masih ada
banyak orang yang peduli dan memberikan semua yang aku butuhkan termasuk
perhatian mereka.
Terkadang aku menjadi
sosok yang gampang terpengaruh dengan omong kosong orang lain, tapi terkadang aku
juga bisa menjadi orang paling keras kepala.
Bagiku, menjadi diri sendiri itu lebih baik. Hal yang terpenting, aku akan selalu berupaya menjadi diri sendiri, sesuai dengan keadaanku. Tanpa perlu ada yang
dibuat-buat maupun ditutupi. Karena, tindakan dan sikapku menjadi ada sebagai hasil dari segala keadaan yang
ada dalam pikiranku. So, just
be myself!
*
* *
Neti Mandasari memiliki nama pena Alzenni
Manda. Lahir di Bojonegoro, 17 Maret 1992. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi
yang sedang menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di salah
satu universitas swasta di Bojonegoro.
(Event Penerbit Harfeey yang pertama kali saya ikuti. Dalam Buku AyL bulan Mei 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar