Cursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Jumat, 29 April 2016

Dalam Buku Aku Yang Lain

AKU ADA KARENA PIKIRANKU

Tak banyak orang yang mengenalku, dalam hal ini maksud dari mengenal adalah benar-benar tahu karakter dan sifatku seperti apa bisa memahami dan mengertiku. Kebanyakan mereka hanya menilai dari sudut pandang yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Hanya segelintir orang yang bisa mengenaliku, seperti ibuku saja. Bahkan ayahku pun tak tahu karakter dan sifatku seperti apa.
Di mata teman-teman, aku itu orangnya tidak jelas, suka menyendiri, cewek manja, dan aneh. Aku bukannya tidak jelas, tapi mereka yang kurang bisa mengertiku apa yang aku maksudkan. Bukan pula suka menyendiri, hanya saja aku tak suka bergosip ria dengan mereka. Bagiku, tindakan itu hanya akan menambah puing-puing dosaku saja.
Pernah suatu ketika salah satu teman dekatku marah padaku gara-gara di sebuah forum aku menyampaikan ketidaksukaanku terhadap keterlambatan waktu. Dengan kata lain, aku memprotes mereka yang tidak bisa ontime.
Jujur, aku tidak suka sikap kamu tadi di forum, ucap Tita padaku.
Ada masalah? tanyaku.
Ya jelas ada, kamu itu orangnya tidak sabar dan pengertian. Kamu itu hanya duduk di sini, sedangkan mereka kesana-kemari mencari dana. Harusnya kamu itu bisa memahami keterlambatan mereka, bukan justru marah-marah seperti tadi, jelas Tita.
Aku tidak marah-marah, aku hanya tidak suka ketidakdisiplinan. Kalau mereka bisa menjadwalkan kapan kita rapat, seharusnya mereka juga bisa menepati apa yang telah mereka putuskan. Lagian kepentinganku juga bukan hanya di sini saja, jawabku mencoba membela diri.
Kamu tahu? Kamu sama saja seperti anak-anak, tidak bisa berfikir layaknya orang dewasa.
Terserah dengan apa yang kau katakan.”
Sebagai orang terdekatmu, aku tak ingin kamu seperti ini. Jangan labil, kelak kau akan malu sendiri dengan apa yang telah kau lakukan, nasihat Tita.
Sebagian tetangga menilai, aku itu orangnya sombong dan angkuh. Karena tak pernah mau berkumpul ataupun berbagi cerita bersama dengan mereka. Aku hanya menjaga diri dari fitnah. Apapun yang aku lakukan pemikiran mereka selalu negatif. Telinga ini terasa panas, bahkan terkadang darah ini mendidih seketika mendengar gunjingan mereka. Hingga tak jarang hal itu menimbulkan rasa nyeri di hatiku. Aku hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan sakit, aku lebih suka menghindar daripada terluka oleh omongan mereka.
Aku itu orangnya simple. Jika seseorang bisa memberiku gula, aku selalu berusaha untuk bisa memberikannya madu. Tapi jika seseorang itu memberikanku kopi, maka aku bisa memberikan sesuatu yang lebih pahit daripada kopi. Aku bukan tipe orang yang pelit. Aku itu orangnya mudah frustasi dan susah untuk bangkit lagi. Bagiku hal yang paling sulit adalah memulainya. Jika semua yang kubangun dengan susah payah kemudian hancur begitu saja, susah bagiku untuk mampu bangkit kembali. Susah bukan berarti tidak bisa, tapi susah itu butuh waktu yang dirasa cukup untuk mengembalikan semua energi positif, semangat, dan membangun kembali apa yang telah gagal.
Sisi lain yang aku punya adalah mudah tertarik dengan hal-hal baru. Tetapi juga mudah bosan dengan hal-hal tersebut, suka berbagi dan juga suka diperhatikan.
Tertarik dengan benda-benda yang aku nilai lucu dan unik, kemudian mengumpulkan satu persatu hingga menghasilkan kumpulan koleksi benda-benda menggemaskan. Semua itu adalah hal yang tak banyak diketahui orang lain, bahkan teman dekatku sendiri.
Jika salah satu sisi hatiku terluka, aku bisa menangis berapa lama pun itu pun. Tapi tidak di sembarang tempatlah.
Aku hanyalah orang yang mencoba menarik perhatian orang yang aku sayang dengan hal-hal yang tak pernah mereka duga. Aku hanya ingin merasakan bahwa aku tak hidup sendiri. Masih ada banyak orang yang peduli dan memberikan semua yang aku butuhkan termasuk perhatian mereka.
Terkadang aku menjadi sosok yang gampang terpengaruh dengan omong kosong orang lain, tapi terkadang aku juga bisa menjadi orang paling keras kepala.
Bagiku, menjadi diri sendiri itu lebih baik. Hal yang terpenting, aku akan selalu berupaya menjadi diri sendiri, sesuai dengan keadaanku. Tanpa perlu ada yang dibuat-buat maupun ditutupi. Karena, tindakan dan sikapku menjadi ada sebagai hasil dari segala keadaan yang ada dalam pikiranku. So, just be myself!

* * *


Neti Mandasari memiliki nama pena Alzenni Manda. Lahir di Bojonegoro, 17 Maret 1992. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di salah satu universitas swasta di Bojonegoro.  
(Event Penerbit Harfeey  yang pertama kali saya ikuti. Dalam Buku AyL bulan Mei 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar