Cursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Jumat, 29 April 2016

EVER BE WAIT YOU


Betapa bahagianya saat aku dan kamu bisa menjadi kita. Menjalin hubungan sebagai kekasihmu adalah sebuah impian yang tak mungkin bisa terwujud, tapi Tuhan berkehendak lain. Impian itu kini menjadi sebuah kenyataan yang harus kujalani. Kamu yang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat dan mendadak menjadi sosok pendiam ketika berada di dekatmu. Kamu yang mampu membuatku gila dengan semua perasaan ini.
Dari senyuman, kuawali perkenalanku denganmu. Dan, dari senyuman pula kau mampu mencuri perhatianku. Ditambah lagi dengan postur tubuhmu yang kutilang, membuat rasa ketertarikan ini semakin jelas. Rasa itu semakin bertambah saat kau mulai memberikan semua perhatianmu untukku. Semua pesanmu selalu memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan sepele. Bagi orang lain mungkin itu konyol. Tapi bagiku, itulah bentuk perhatian yang teramat kusuka. Hingga akhirnya, sesuatu hal mengharuskanmu untuk pergi. Demi alasan kelanjutan studi yang diidam-idamkan oleh mereka, kedua orang tuamu. Begitulah alasanmu, alasan baik menurutmu. Tapi tidak bagiku. Jujur, karna aku tak menginginkan begitu. Jauh. Terdampar dalam kesendirian.
Tiga tahun lebih aku disini menunggu. Selalu berharap kelak kau akan kembali, tanpa berkurang suatu hal apapun. Terkadang aku berfikir, menjadi bagian dari hidupmu adalah sebuah hadiah terindah. Bisa menjalani hari-hari bersamamu, menghabiskan seluruh waktuku hanya denganmu. Bukankah itu terasa sangat menyenangkan?
Sayang.... kenyataan berkata tidak. Aku kembali harus bersapa mesra dalam ribuan aura penantian. Menunggumu terjaga dari segala kesibukan. Kau kembali dengan kesibukan yang tak pernah berujung. Bekerja dari pagi hingga menjelang malam, itulah rutinitas harianmu yang sungguh terasa memuakkan. Maaf!
* * *
Tulalit... tulalit,,,.
Terputus lagi, terputus lagi. Selalu saja ada gangguan tiap menghubungimu. Kuletakkan barang mungil itu begitu saja. Pasrah.
Hingga saat ini masih belum kutemukan jawaban dari semua pertanyaanku. Tak pernah kutau, kenapa aku bisa sesabar ini padamu? Kamu yang selalu dan terus membuatku menunggu. Pernahkah kau berfikir, betapa lelahnya menunggu itu? Atau memang kau tak pernah merasakan bagaimana dan seperti apa menunggu itu. Aku selalu terkalahkan dengan kesibukkanmu.
Tak sedikit orang yang menganggapku bodoh. Bertahan hanya untuk menunggu, dan terus menunggu. Tapi aku tak pernah menghiraukannya, karena bagiku semua penantian ini akan terbayar mahal. Dan, perjuangan untuk selalu menunggumu pasti akan ada ujungnya.
 “Kenapa Sa, kok wajahnya bĂȘte gitu?” tanya  Kak Mei padaku.
Aku nggak papa.
Yakin?”
Aku sebel sama Shaun.
Shaun adalah panggilan sayangku pada Zirda, seseorang yang selalu membuatku menunggu.
Kenapa?”
Sore ini katanya ngajakin keluar. Tapi sampe sekarang nggak dateng-dateng.
Tungguin aja dulu. Siapa tau dia masih ada urusan, jadinya telat. Sudah kamu hubungi belum?”
Sudah. Tapi nggak bisa dihubungi, sahutku lagi, di ujung helaan napas.
Sabar, deh. Nanti juga datang. Kakak mau nyusul Ibu ke rumah Budhe dulu, ya.”
“Iya, jawabku singkat.
“Jangan lupa nanti pintunya dikunci, kalau jadi pergi! ucap Kak Mei dengan penekanan pada kata ‘pergi’. Dia pun tersenyum mengejek. Seakan-akan dia yakin sekali kalau aku tidak jadi pergi juga akhirnya.
Iya, bawel, jawabku sengit. Panas juga melihat tingkahnya.
Kring... kriiiiingggg.
Pasti itu Shaun,” pikirku dalam hati. Segera kuhampiri benda mungil itu dengan penuh harap.
Namun, pias seketika. Ternyata nama Dira yang tertera pada layar ponselku. Bukan Shaun. Bukan seseorang yang pantas menjawab penantianku sedari tadi.
Ada apa, Dir?” tanyaku kemudian, setelah menekan keypad accept untuk menerimanya.
“Sa, lagi ada acara nggak? Hange-out sama temen-temen yuk!sahut suara di seberang. Mulutku mengerucut, sebal. Apa asyiknya jalan-jalan, jika pikiran ini tak mau beralih dari satu nama... just for Shaun!
Aku nggak bisa, Dir,” tolakku sehalus mungkin.
Oh... ya sudah kalau begitu. Bye Sa, sahut Dira pengertian. Sepertinya dia tahu kondisi mood-ku yang tengah menurun saat ini.
“Iya... maaf ya, teman. Dan, klik... sambungan itu pun terputus.
Waktu telah menunjukkan pukul 17.58, tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau kamu akan menepati janjimu. Kuputuskan untuk berganti pakaian, karena kupikir tak mungkin lagi kau datang menjemputku. Mau nyusul ke rumah Budhe juga malas, jadi lebih baik menjadi satpam di rumah saja. Menikmati kesendirian bersama kicauan kacau acara televisi saat ini.
Tak berselang lama, tiba-tiba terdengar suara deru motor matic. Dan, sepertinya suara itu mengarah ke dalam pekarangan rumahku. Benarkah dia? Rasanya jantungku semakin giat berdetak. Cepat, tanpa lelah.
Tanpa berpikir panjang lagi, segera kularikan kaki ini menuju pintu depan. Menyapa rasa penasaran, memastikan jawaban pastinya. Ternyata... ah, bukan dia! Dan, memang bukan dia. Bukan saatnya senyumku mengudara saat ini.
Aku tak percaya, bahwa kisahku akan berjalan seperti ini. Layaknya sebuah dongeng, dimana sang putri harus sabar menunggu hingga sang pangeran datang menjemputnya. Tapi, entah sampai kapan penantian ini akan berakhir. Satu hal yang pasti... aku akan melakukan segalanya, apapun itu, dengan hatiku. Demi menunggumu.
* * *

Dalam buku Menunggu #2 (Lelah dalam durasi) 
Penerbit Harfeey
2013

Shaun adalah panggilan kesayangan untuk dia. Dia yang tak pernah sekalipun berhasil kutemui. Dia yang saat ini masih berjuang mendapatkan gelar Sarjana Teknik-nya. 
Meski kini jalan kita berbeda semoga semua yang kamu impikan tercapai.
dan Aku masih menunggu kamu menepati janji yang akan mengajakku jalan dengan motor CB yang kamu rangka senidiri itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar