Betapa bahagianya saat
aku dan kamu bisa menjadi kita. Menjalin hubungan sebagai kekasihmu adalah
sebuah impian yang tak mungkin bisa terwujud, tapi Tuhan berkehendak lain.
Impian itu kini menjadi sebuah kenyataan yang harus kujalani. Kamu yang selalu
membuat jantungku berdetak lebih cepat dan mendadak menjadi sosok pendiam
ketika berada di dekatmu.
Kamu yang mampu membuatku gila dengan semua perasaan ini.
Dari senyuman, kuawali
perkenalanku denganmu. Dan, dari senyuman pula kau
mampu mencuri perhatianku. Ditambah lagi dengan postur tubuhmu yang kutilang, membuat rasa ketertarikan ini semakin
jelas. Rasa
itu semakin bertambah saat kau mulai memberikan semua perhatianmu untukku.
Semua pesanmu selalu memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan sepele. Bagi orang lain mungkin itu konyol. Tapi bagiku, itulah bentuk perhatian yang teramat kusuka. Hingga akhirnya, sesuatu hal mengharuskanmu untuk pergi. Demi alasan kelanjutan studi yang diidam-idamkan oleh
mereka, kedua orang tuamu. Begitulah alasanmu, alasan baik menurutmu. Tapi tidak
bagiku. Jujur, karna aku tak menginginkan begitu. Jauh. Terdampar dalam
kesendirian.
Tiga tahun lebih aku
disini menunggu. Selalu berharap kelak kau akan kembali, tanpa berkurang suatu hal apapun. Terkadang aku berfikir, menjadi bagian dari hidupmu adalah
sebuah hadiah terindah. Bisa menjalani
hari-hari bersamamu,
menghabiskan seluruh waktuku hanya denganmu. Bukankah itu terasa sangat menyenangkan?
Sayang.... kenyataan berkata tidak. Aku kembali harus bersapa mesra dalam ribuan aura penantian.
Menunggumu terjaga dari
segala kesibukan.
Kau kembali dengan kesibukan yang tak pernah berujung. Bekerja dari pagi hingga menjelang malam, itulah rutinitas harianmu yang sungguh terasa memuakkan. Maaf!
* * *
Tulalit... tulalit,,,.
Terputus lagi, terputus lagi. Selalu saja ada gangguan tiap
menghubungimu. Kuletakkan
barang mungil itu begitu saja.
Pasrah.
Hingga saat ini masih
belum kutemukan jawaban dari semua pertanyaanku. Tak pernah kutau, kenapa aku bisa sesabar ini padamu? Kamu yang selalu dan terus membuatku
menunggu. Pernahkah kau berfikir,
betapa lelahnya menunggu itu? Atau
memang kau tak pernah merasakan bagaimana dan seperti apa menunggu itu. Aku selalu terkalahkan dengan
kesibukkanmu.
Tak sedikit orang yang menganggapku bodoh. Bertahan hanya untuk menunggu, dan terus menunggu. Tapi aku tak pernah menghiraukannya, karena bagiku semua penantian ini akan
terbayar mahal. Dan,
perjuangan untuk selalu menunggumu pasti akan ada ujungnya.
“Kenapa
Sa, kok wajahnya bĂȘte gitu?” tanya Kak
Mei padaku.
“Aku nggak papa.”
“Yakin?”
“Aku sebel sama Shaun.”
Shaun adalah panggilan
sayangku pada Zirda,
seseorang yang selalu membuatku menunggu.
“Kenapa?”
“Sore ini katanya ngajakin keluar. Tapi sampe sekarang nggak dateng-dateng.”
“Tungguin aja dulu. Siapa tau dia masih ada urusan, jadinya telat. Sudah kamu hubungi
belum?”
“Sudah. Tapi nggak bisa dihubungi,” sahutku lagi, di ujung helaan napas.
“Sabar, deh. Nanti juga datang. Kakak
mau nyusul Ibu
ke rumah Budhe dulu, ya.”
“Iya,” jawabku singkat.
“Jangan lupa nanti
pintunya dikunci,
kalau
jadi pergi!” ucap Kak Mei dengan penekanan pada kata ‘pergi’. Dia pun
tersenyum mengejek. Seakan-akan dia yakin sekali kalau aku tidak jadi pergi juga akhirnya.
“Iya, bawel,” jawabku sengit. Panas juga melihat tingkahnya.
Kring... kriiiiingggg.
“Pasti itu Shaun,” pikirku dalam hati. Segera kuhampiri benda mungil itu dengan penuh harap.
Namun, pias seketika. Ternyata nama Dira yang tertera pada layar ponselku.
Bukan Shaun.
Bukan seseorang yang pantas menjawab penantianku sedari tadi.
“Ada apa, Dir?” tanyaku kemudian, setelah menekan keypad accept untuk
menerimanya.
“Sa, lagi ada acara
nggak?
Hange-out
sama temen-temen yuk!”
sahut suara di seberang. Mulutku mengerucut, sebal. Apa
asyiknya jalan-jalan, jika pikiran ini tak mau beralih dari satu nama... just for Shaun!
“Aku nggak bisa,
Dir,” tolakku sehalus mungkin.
“Oh...
ya sudah kalau begitu. Bye Sa,” sahut Dira pengertian. Sepertinya dia tahu kondisi mood-ku yang tengah menurun saat ini.
“Iya... maaf ya, teman.” Dan, klik... sambungan
itu pun terputus.
Waktu telah menunjukkan
pukul 17.58,
tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau kamu akan menepati janjimu.
Kuputuskan untuk berganti pakaian,
karena kupikir tak
mungkin lagi kau datang
menjemputku. Mau nyusul ke rumah
Budhe juga malas, jadi lebih baik menjadi satpam di rumah saja. Menikmati kesendirian bersama kicauan kacau acara
televisi saat ini.
Tak berselang lama, tiba-tiba terdengar suara deru
motor matic. Dan, sepertinya suara itu mengarah ke dalam
pekarangan rumahku. Benarkah dia?
Rasanya jantungku semakin giat berdetak. Cepat, tanpa lelah.
Tanpa berpikir panjang lagi, segera kularikan kaki ini menuju pintu depan. Menyapa
rasa penasaran, memastikan jawaban pastinya. Ternyata... ah, bukan dia! Dan, memang bukan dia. Bukan
saatnya senyumku mengudara saat ini.
Aku tak percaya, bahwa kisahku akan berjalan seperti ini. Layaknya sebuah dongeng, dimana
sang putri harus sabar menunggu hingga sang pangeran datang menjemputnya. Tapi, entah sampai kapan penantian ini akan
berakhir. Satu hal yang pasti...
aku akan melakukan segalanya, apapun itu, dengan hatiku. Demi menunggumu.
* * *
Dalam buku Menunggu #2 (Lelah dalam durasi)
Penerbit Harfeey
2013
Shaun adalah panggilan kesayangan untuk dia. Dia yang tak pernah sekalipun berhasil kutemui. Dia yang saat ini masih berjuang mendapatkan gelar Sarjana Teknik-nya.
Meski kini jalan kita berbeda semoga semua yang kamu impikan tercapai.
dan Aku masih menunggu kamu menepati janji yang akan mengajakku jalan dengan motor CB yang kamu rangka senidiri itu.
Penerbit Harfeey
2013
Shaun adalah panggilan kesayangan untuk dia. Dia yang tak pernah sekalipun berhasil kutemui. Dia yang saat ini masih berjuang mendapatkan gelar Sarjana Teknik-nya.
Meski kini jalan kita berbeda semoga semua yang kamu impikan tercapai.
dan Aku masih menunggu kamu menepati janji yang akan mengajakku jalan dengan motor CB yang kamu rangka senidiri itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar