Cursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Jumat, 29 April 2016

FTS Ramadhan (5 juli 2014)

TARAWIH DENGANMU
Ini adalah pengalaman pertama yang aku dapatkan yaitu tarawihku bersama teman-teman dan orang tersayang disekolah. Kalau tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan ramadhan tiba sekolah kita selalu mengadakan pondok romadhon atau yang lebih dikenal dengan pesantren kilat. Tahun ajaran kali ini atau bulan puasa pada tahun ini berbeda dengan sebelumnya.
Sekolah menyelenggarakan tarawih dan tadarus bersama dimasjid sekolah. Tujuan agar kita bisa semakin dekat satu sama lain dan semakin kompak. Jadi setiap malam masjid sekolah akan selalu ramai, tapi kelasnya digabung secara acak tiap kelas bergiliran setiap malam. Semisal kelas X-1 gabung dengan XII-S1 dapat giliran hari pertama yang harus tarawih dan tadarus disekolah selama 2 hari, besoknya baru dilanjut kelas selanjutnya sesuai urutan yang telah ditentukan disekolah.
Dan kelasku mendapat giliran pada minggu kedua pada hari rabu dan kamis, kelasku beserta beberapa kelas lainnya tidak digabung dengan kelas lain karena memang sudah tidak ada kelas yang bisa digabung semua sudah mendapatkan pasangan masing-masing.
Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sekolah, hari itu aku berangkat lebih awal sebelum jam sholat tarawih tiba. Aku pergi diantar dengan ayah karena memang nenekku tak mengijinkan aku pergi sendiri takut ini itu terjadi padaku maklumlah nenek orang kuno jadi masih kolot dan banyak aturan gitu.
Sesampainya disekolah aku langsung menuju ke mushola, mushola itu terletak ditengah setelah lapangan utama sedangkan sekolahku berbentuk angka delapan. Dalam perjalanan aku melihat ruang osis begitu ramai sepertinya pengurus osis lagi berkumpul dan bercanda disana dan tiba-tiba ada salah satu orang yang keluar dan aku mempercepat langkahku.
Teman-temanku sudah berkumpul di masjid ternyata mereka meneriaki.
“Da, disini.” Mereka berteriak sambil melambaikan tangan. Aku hanya mengangguk.
Ternyata masjid sudah ramai bahkan mereka sudah duduk manis ditempatnya siap melaksanakan sholat tarawih. Adzan dan iqomat pun selesai dikumandangkan dan kini tibalah waktunya sholat tarawih.
Selesai sholat tarawih dan dzikir, aku baru menyadari bahwa orang dibarisan depanku adalah dia. Dia yang tadi aku lihat keluar dari ruang osis ketika aku berangkat. Sebenarnya pengen lama-lama disini tapi tak mungkin bisa.
Seraya melipat mukena akupun berpamitan dengan teman-teman. Karena memang aku hanya dapat izin untuk sholat tarawih disekolah tidak dengan tadarus nenekku tak mengijinkan aku pulang malam dan ibuku hanya mengiyakan saja. Lagi-lagi terbentur izin dan segala macam aturannya.
“Kok pulang sich Da, kan belum tadarus?” protes Yuli
“Aku nggak ikut tadarus kan sudah ada kalian…hehe”
“Gara-gara gak dapat ijin?” Vita memastikan
“hehe” Aku cuma bisa nyengir, karena memang itu benar.
Setelah selesai melipat mukena aku langsung keluar masjid. Setelah ada diluar sambil berjalan aku menghubungi ayahku minta dijemput. Dan ayahku bilang orangnya masih beli obat buat nenek jadi datangnya agak terlambat. Aku tak menyadarinya kalau sejak tadi ternyata ada orang lain yang berjalan beiringan denganku.
“Gak tadarus dulu dek? Kok pulang?” Dia mencoba memberitahuku akan adanya dirinya disampingku entah sejak kapan. Mengagetkanku itu pasti.
“Enggak kak.” Jawabku pendek
“Kenapa?”
“Emmmmm” Aku bingung harus menjawa apa tak mungkin aku bilang yang sebenarnya kedia karena pasti dia akan menertawakanku.
“Udah nggak usah dijawab kalau nggak mau ngasih tau.” Katanya setelah melihat mimik wajahku yang sedang kebingungan mencari alasan.
“Kakak sendiri kok disini?” Aku bertanya balik padanya
“Aku mau ngambil absen, duluan ya.”
Aku hanya tersenyum, bahagia disapanya. Dia adalah orang yang membuatku semangat untuk datang ke sekolah. Andi siswoyo itulah namanya, kakak kelas yang masuk anggota osis dan berhasil masuk dihatiku menempati posisi terdalam disana.
“Yah kok belum sampai?” Tanyaku dibenda mungil yang kini menempel ditelinga.
“Ini masih antri sebentar ya.” Jawab orang diseberang sana disertai dengan pemutusan telepon sepihak. Membuatku semakin dongkol saja, sudah tak bisa ikut tadarus bersama teman- teman malah harus nunggu jemputan yang lama sekali.
Didepan ruang guru ada seseorang yang berdiri memperhatikanku. Pintu ruang guru menghadap langsung kepintu gerbang, jadi otomatis dia bisa melihat dengan jelas aku sekarang. Tiba-tiba orang itu berjalan kearahku. Aku semakin deg-deg an, tak pernah menyangka atau bahkan membayangkan dia mau dekat-dekat denganku.
“Kok belum pulang?” Katanya begitu sampai disebelahku
“Belum dijemput.” Jawabku sambil terus memandangi wajahnya begitu meneduhkan.
“Aku antar mau?”
Aku hanya diam mencoba mencerna semua yang dikatakannya barusan. Ini semua seperti mimpi. Tapi aku tak mungkin mengiyakan tawarannya, nenekku bisa ngamuk kalau tahu.
“Sebelumnya terima kasih tapi nggak usah nanti malah ngrepotin.”
“Nggak repot kok.”
“Enggak” bersamaan dengan itu jemputanku pun datang.
“Duluan ya kak.”
“Iya hati-hati.”
Aku pulang dengan hati yang berbunga-bunga. Ramadhan yang menyenangkan, tarawih yang mengesankan karena ada kamu disitu.
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar