TARAWIH DENGANMU
Ini
adalah pengalaman pertama yang aku dapatkan yaitu tarawihku bersama teman-teman
dan orang tersayang disekolah. Kalau tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan
ramadhan tiba sekolah kita selalu mengadakan pondok romadhon atau yang lebih dikenal
dengan pesantren kilat. Tahun ajaran kali ini atau bulan puasa pada tahun ini
berbeda dengan sebelumnya.
Sekolah
menyelenggarakan tarawih dan tadarus bersama dimasjid sekolah. Tujuan agar kita
bisa semakin dekat satu sama lain dan semakin kompak. Jadi setiap malam masjid
sekolah akan selalu ramai, tapi kelasnya digabung secara acak tiap kelas
bergiliran setiap malam. Semisal kelas X-1 gabung dengan XII-S1 dapat giliran
hari pertama yang harus tarawih dan tadarus disekolah selama 2 hari, besoknya
baru dilanjut kelas selanjutnya sesuai urutan yang telah ditentukan disekolah.
Dan
kelasku mendapat giliran pada minggu kedua pada hari rabu dan kamis, kelasku
beserta beberapa kelas lainnya tidak digabung dengan kelas lain karena memang
sudah tidak ada kelas yang bisa digabung semua sudah mendapatkan pasangan
masing-masing.
Sesuai
dengan jadwal yang telah ditentukan sekolah, hari itu aku berangkat lebih awal
sebelum jam sholat tarawih tiba. Aku pergi diantar dengan ayah karena memang
nenekku tak mengijinkan aku pergi sendiri takut ini itu terjadi padaku
maklumlah nenek orang kuno jadi masih kolot dan banyak aturan gitu.
Sesampainya
disekolah aku langsung menuju ke mushola, mushola itu terletak ditengah setelah
lapangan utama sedangkan sekolahku berbentuk angka delapan. Dalam perjalanan
aku melihat ruang osis begitu ramai sepertinya pengurus osis lagi berkumpul dan
bercanda disana dan tiba-tiba ada salah satu orang yang keluar dan aku
mempercepat langkahku.
Teman-temanku
sudah berkumpul di masjid ternyata mereka meneriaki.
“Da,
disini.” Mereka berteriak sambil melambaikan tangan. Aku hanya mengangguk.
Ternyata
masjid sudah ramai bahkan mereka sudah duduk manis ditempatnya siap
melaksanakan sholat tarawih. Adzan dan iqomat pun selesai dikumandangkan dan
kini tibalah waktunya sholat tarawih.
Selesai
sholat tarawih dan dzikir, aku baru menyadari bahwa orang dibarisan depanku
adalah dia. Dia yang tadi aku lihat keluar dari ruang osis ketika aku
berangkat. Sebenarnya pengen lama-lama disini tapi tak mungkin bisa.
Seraya
melipat mukena akupun berpamitan dengan teman-teman. Karena memang aku hanya
dapat izin untuk sholat tarawih disekolah tidak dengan tadarus nenekku tak
mengijinkan aku pulang malam dan ibuku hanya mengiyakan saja. Lagi-lagi
terbentur izin dan segala macam aturannya.
“Kok
pulang sich Da, kan belum tadarus?” protes Yuli
“Aku
nggak ikut tadarus kan sudah ada kalian…hehe”
“Gara-gara
gak dapat ijin?” Vita memastikan
“hehe”
Aku cuma bisa nyengir, karena memang itu benar.
Setelah
selesai melipat mukena aku langsung keluar masjid. Setelah ada diluar sambil
berjalan aku menghubungi ayahku minta dijemput. Dan ayahku bilang orangnya
masih beli obat buat nenek jadi datangnya agak terlambat. Aku tak menyadarinya
kalau sejak tadi ternyata ada orang lain yang berjalan beiringan denganku.
“Gak
tadarus dulu dek? Kok pulang?” Dia mencoba memberitahuku akan adanya dirinya
disampingku entah sejak kapan. Mengagetkanku itu pasti.
“Enggak
kak.” Jawabku pendek
“Kenapa?”
“Emmmmm”
Aku bingung harus menjawa apa tak mungkin aku bilang yang sebenarnya kedia
karena pasti dia akan menertawakanku.
“Udah
nggak usah dijawab kalau nggak mau ngasih tau.” Katanya setelah melihat mimik
wajahku yang sedang kebingungan mencari alasan.
“Kakak
sendiri kok disini?” Aku bertanya balik padanya
“Aku
mau ngambil absen, duluan ya.”
Aku
hanya tersenyum, bahagia disapanya. Dia adalah orang yang membuatku semangat
untuk datang ke sekolah. Andi siswoyo itulah namanya, kakak kelas yang masuk
anggota osis dan berhasil masuk dihatiku menempati posisi terdalam disana.
“Yah
kok belum sampai?” Tanyaku dibenda mungil yang kini menempel ditelinga.
“Ini
masih antri sebentar ya.” Jawab orang diseberang sana disertai dengan pemutusan
telepon sepihak. Membuatku semakin dongkol saja, sudah tak bisa ikut tadarus bersama
teman- teman malah harus nunggu jemputan yang lama sekali.
Didepan
ruang guru ada seseorang yang berdiri memperhatikanku. Pintu ruang guru
menghadap langsung kepintu gerbang, jadi otomatis dia bisa melihat dengan jelas
aku sekarang. Tiba-tiba orang itu berjalan kearahku. Aku semakin deg-deg an,
tak pernah menyangka atau bahkan membayangkan dia mau dekat-dekat denganku.
“Kok
belum pulang?” Katanya begitu sampai disebelahku
“Belum
dijemput.” Jawabku sambil terus memandangi wajahnya begitu meneduhkan.
“Aku
antar mau?”
Aku
hanya diam mencoba mencerna semua yang dikatakannya barusan. Ini semua seperti
mimpi. Tapi aku tak mungkin mengiyakan tawarannya, nenekku bisa ngamuk kalau
tahu.
“Sebelumnya
terima kasih tapi nggak usah nanti malah ngrepotin.”
“Nggak
repot kok.”
“Enggak”
bersamaan dengan itu jemputanku pun datang.
“Duluan
ya kak.”
“Iya
hati-hati.”
Aku
pulang dengan hati yang berbunga-bunga. Ramadhan yang menyenangkan, tarawih
yang mengesankan karena ada kamu disitu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar