NODA
CINTA
Aku mengenalnya dari Ujian Tengah Semester beberapa
bulan lalu. Dia adalah anak XII-S1 kakak kelasku, seperti biasa saat ujian
kelas X digabung dengan kelas XII meski aku tak sebangku dengannya tetap saja
kita sekelas. Sebenarnya aku tak mengenalnya, tapi gara-gara sikapnya itu
membuat aku bertanya ke orang yang duduk disampingku. Saat guru jaga keluar
kelas dia mulai cari perhatian yang nglempar penghapus lah, yang
manggil-manggil namaku dan ini itu. Begitulah awal perkenalan kita. Dan
sekarang kami menjadi pasangan.
“Coklat
mau?” tanyanya seraya menyodorkan tangannya.
“Enggak”
jawabku pendek
“Permen? Ini juga ada atau ini? Atau yang mana ambil
aja.” dia masih mencoba menawarkan apa yang dia bawa, tangannya penuh dengan
aneka macam makanan. Rupanya dia habis dari kantin.
“Enggak makasih.”
“Loh
jangan gitu donk. Aku sengaja beli ini semua buat kamu.”
“Tapi
aku nggak mau semua itu.”
“Kamu
nggak suka ya? Terus kamu sukanya apa? Atau kita kekantin aja biar kamu bisa
pilih mana yang kamu suka.”
“Enggak,
aku mau disini aja. Keluar gih bentar lagi bel.”
“Tapi
kan …”
Kringgg
kringgg…
“Tuh udah bel, balik kekelas
sana.”
“Nanti
siang pulang bareng. Aku tunggu di depan kelas.” Ajaknya seraya menjauh dari
bangku ku. Dia selalu begitu, bersikap berlebihan padaku.
***
“Aku
anter ya?” ucap mukhlis saat melihatku sampai di depan kelasnya. Aku selalu
melewati kelasnya karena memang kelas dia ada didekat kantor guru, satu-satunya
jalan arah menuju gerbang sekolah sementara kelas aku ada dipaling ujung dekat
kantin jadi lebih masuk kedalam.
“Enggak
usah, aku sama temen aja. Aku du…” Dia
menarik pergelangan tanganku sebelum aku selesai melanjutkan kalimatku.
“Kamu
kenapa sich? Aku serius sayang sama kamu.” Dia memang tak pernah lelah
meyakinkanku tentang perasaannya dari dulu.
“Sekarang
aku sulit untuk bisa mempercayaimu.”
“Tapi
kenapa?”
“Sudahlah
kak, sudah cukup semua permainanmu. Aku tahu kamu dan Fatimah pernah ada
hubungan tapi itukan sudah berakhir beberapa waktu lalu dan aku juga sudah
lelah dimarahin terus sama mantanmu itu. Dia selalu menuduhku kalau aku telah
merebutmu dari dia. Dia itu masih sayang sama kamu. ” terangku seraya
melepaskan genggaman tangannya.
Fatimah
adalah teman SMP ku dan dia adalah tetangga Mukhlis sekaligus mantannya,
ternyata mereka memliki hubungan special aku tahu itu saat awal masuk SMA ini.
“Tapi
aku nggak. Dengerin aku dulu donk dek. Aku sudah tidak ada apa-apa dengannya.”
“Awalnya
aku juga berfikir begitu, dia hanya masa lalumu. Tapi setelah aku tahu kamu
balikan lagi sama dia dibelakangku aku sudah tak bisa percaya lagi denganmu.”
“Gak
gitu dek.”
“Kamu
tahu kan aku berusaha mati-matian agar mempunyai rasa yang sama denganmu dan
kamu selalu meyakinkanku bahwa semua rasa sayangmu itu hanya untukku, kamu juga
membuktikan itu. Tapi kenapa saat aku sudah bisa menerimamu dan menyayangimu
kamu malah seperti ini? Dari yang tak ada rasa sampai menyayangimu itu bukan
hal yang mudah harusnya kamu tau itu.” Dan seketika itu tangisku pun pecah.
Sambil berlari aku mencoba menata hatiku, semua akan baik-baik saja meski
sakitnya begitu menyiksa. Setelah semua yang telah kita lewati bersama apa
makna dari semua ini, Pengorbananku tak dihargai dan cintaku pun telah
dinodainya.
Bojonegoro, 30 Juni 2014
***
Kedungadem
Bojonegoro dengan kode pos 62195 menjadi kota terlahirnya Neti Mandasari dengan
nama pena Alzenni Manda. Jika ada yang sudi mengenalnya silahkan tengok di
@MandaNetty atau di manda.net09@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar