Matahari bersinar begitu terang, teriknya begitu menyengatku. Seakan dia
tak rela kalau aku cepat-cepat sampai rumah. Tapi, semangatku tak boleh
terkalahkan. Aku harus bisa
menaklukannya.
Kukayuh sepeda dengan cepat, tapi sepertinya ada yang aneh. Ada apa dengan
sepedaku? Ada yang salah dengan bannya ternyata.
“Haduh... kok kempes di sini sih,” gerutuku. Terpaksa, tak ada jalan lain.
Aku harus pulang dengan jalan kaki.
“Gimana mau cepet sampai rumah kalau begini keadaannya? Benar-benar cobaan
puasa yang begitu sempurna kurasa,” keluhku sepanjang perjalanan.
Tiiiiitttt......tttiiittttt!!
Suara klakson meraung tiba-tiba tepat di telingaku. Aku terkejut setengah
mati.
“Zulia, kok jalan. Sepedanya kenapa?”
Kucari dari mana arah suara itu berasal dan ternyata... “Ovan,” sahutku
menjawab asal suara itu. “Iya, ini ban sepedaku kempes,” terangku.
Ovan adalah teman terbaikku, sekaligus orang yang mampu menduduki ruang
kosong di hatiku setahun belakangan ini. Dia adalah sosok yang begitu
menyenangkan dan perhatian. Setiap ada kesulitan, dia pun selalu ada untukku.
“Aku anterin saja, gimana? Sepedanya biar aku taruh di mobil sini. Lagi
pula di sekitar sini sepertinya nggak ada bengkel,” bujuknya. Caring, seperti biasa.
“Nggak deh, makasih. Kesannya terus-terusan merepotkanmu.”
“Loh, kok repot, sih. Santai saja,” balas Ovan. “Udah yuk, buruan! Panas ini.”
Aku hanya mengangguk perlahan, dan menuruti permintaannya. Duduk
berdampingan dengannya seperti saat ini, benar-benar hadiah terindah dan langka
terjadi bagiku. Bahkan bibirku pun tak henti-hentinya menarik garis lengkung.
Tiba-tiba aku merasa tak rela jika waktu terlalu cepat berjalan. Tak rela kebersamaan
ini akan segera berakhir. Ingin kumuntahkan kata-kata ini. Tapi, ada sesuatu
yang membuat nyaliku selalu menciut tiap berada di dekatnya.
“Zul, nanti sore aku jemput ya?” Perkataan Ovan membuyarkan lamunanku seketika.
“Mau ke mana, Van?”
“Jalan-jalan biasa, sambil nunggu waktu berbuka puasa juga. Mau?”
Aku terdiam. Tanpa ditanya pun, aku akan mengiyakan pinta itu. Tapi...
“Nanti aku yang ijin langsung ke Bunda deh. Kok kelihatannya takut gitu.”
Aku menoleh ke arahnya. Aneh. Seperti Ovan bisa membaca pikiranku begitu
saja. Dia menatapku sekilas, sebelum kembali fokus ke jalan.
“Kalau diam, berarti setuju,” tambahnya lagi, bersama seulas senyumannya.
Senyum yang menghangatkan.
***
Petang itu, sesuai dengan hal yang kuprediksikan. Aku yakin, Ovan pasti
akan dengan mudah mendapat ijin dari Bunda. Tidak seperti teman-teman priaku
lainnya. Tidak tahu pasti pula apa penyebabnya. Hanya pada Ovan, Bunda tidak
se-over protected seperti biasanya.
Maklum, hanya Bunda sosok single parent
bagiku.
Pernah suatu ketika, Bunda mempertanyakan status hubunganku dengan Ovan.
Karena kami memang benar-benar dekat, lebih dari teman. Tapi, entahlah...
kenapa hingga detik ini pun kata-kata keramat yang kuantikan itu belum juga
tersampaikan dari mulut Ovan. Jujur, hatiku selalu berharap ada tempat lebih di
hatinya untuk segaris namaku. Dan, segala kebaikan yang telah dilakukannya, membuat
rasa ini kian mengakar. Aku pun merasa tak perlu untuk membunuh rasa itu.
Motor ovan berhenti tepat
di depan sebuah bangunan yang cukup besar.
“Kenapa ke toko buku, Van?” tanyaku, setelah menyadari bangunan apa itu.
“Masuk saja dulu, nanti juga kamu tahu,” jawab Ovan ringan. Dia pun
menggenggam tanganku, memasuki toko buku itu. “Kamu tunggu sini, ya,” pintanya.
Tak selang berapa lama, Ovan kembali dengan sebuah buku yang disembunyikan
di belakang badannya. Kemudian mengangsurkannya padaku, seraya berucap, “Ini
buat kamu. Suka?”
“Untukku?” aku balik bertanya. Tak percaya dengan benda yang saat ini ada
di tanganku. Sebuah novel yang selama ini selalu gagal dari radar pencarianku,
kini dengan mudah meringkuk lemah di tanganku. Dari tangan Ovan tepatnya.
“Iya. Katanya penasaran sama isinya.”
“Wah.. aku jadi speechless gini,
Van. Makasih banyak, ya,” ucapku girang.
Petang itu, segalanya tampak indah. Tapi saat perjalanan pulang, hujan
deras mengubahnya. Ovan akhirnya memutuskan untuk berteduh dulu.
“Maaf ya Zul, sepertinya kita telat buka di rumah. Hujannya tambah lebat
ini. Nggak mungkin juga kalau nekat kan?” ucap Ovan dengan nada menyesal.
“Iya, nggak apa-apa, Van. Nggak perlu minta maaf juga,” sahutku.
“Pakai ini, Zul! Biar kamu nggak kedinginan,” perintah Ovan, sambil
memakaikan jaketnya ke badanku. “Aku nggak mau kamu jadi sakit gara-gara ini.”
Ovan memang satu-satunya orang, selain Bunda, yang tahu pasti tentang kondisi
kesehatanku. Daya tahan tubuhku yang tak stabil, terkadang naik-turun tak
beraturan.
Tiba-tiba Ovan bangkit dari duduknya. Dan, berlari melawan anak-anak hujan.
Tanpa pamit padaku. Bahkan, suara teriakanku pun tak didengarnya. Selalu
seperti ini, kebiasaan buruk Ovan yang tak kusuka. Selalu bersikap tanpa
terduga, semaunya saja.
Mulutku mengerucut. Bahkan, hingga saat Ovan tiba kembali. Rasanya ini
perlu. Suatu bentuk protesku atas sikapnya tadi.
“Ini Zul. Kamu buka puasa pakai ini dulu, ya? Seadanya,” ucap Ovan, sambil
menyodorkan sekantung plastik makanan ringan. Jadi, dia berlari payah tadi
hanya demi ini. Keterluan! Membuat orang khawatir.
“Nggak mau. Aku buka di rumah aja,” jawabku dengan ketus.
“Nggak bisa, kamu harus makan ini! Biar perut kamu nggak kosong. Nanti
masuk angin lagi.” Tanpa menunggu respon dariku, Ovan pun langsung menyuapiku.
Terpaksa, akhirnya aku luluh juga.
“Besok kita ke taman, ya? Aku jemput kamu,” pinta Ovan. Lagi-lagi ajakan
untuk keluar bersama. “Ada sesuatu yang harus kusampaikan. Nanti juga kamu
tahu.”
Aku hanya mengangguk, walau beribu kata tanya melayang liar di benakku.
Benar-benar penasaran. Apa mungkin Ovan akan menyampaikan kata keramat yang
kunanti-nati selama ini? Yah, semoga saja.
***
“Ada apa sih, Van? Kenapa kita ke sini?” tanyaku bertubi-tubi. Siang itu,
tepat di tengah taman kota. Bersama ribuan genderang yang bermain gaduh di
hatiku.
“Aku mau kasih tahu kamu sesuatu. Ayo!”
Aku hanya melangkah, mengikuti geraknya dari belakang. Hingga Ovan berhenti
tepat di depan seorang cewek. Membuatku semakin penasaran. Siapa dia?
“Zul, kenalin ini Zhara. Dan... Zhara, ini Zulia,” ucap Ovan memperkenalkan
kami satu sama lain. Sementara cewek bernama Zhara itu pun mengangsurkan
tangannya ke arahku, memaksaku untuk menyambutnya.
“Jadi ini, yang namanya Zulia? Adik angkat yang kamu ceritakan itu kan,
Van?” tanya Zhara. Senyum hangat pun terpancar dari wajahnya.
“Adik angkat?” tanyaku, seakan tak yakin dengan apa yang baru saja
kudengar.
“Zul, Zhara ini pacar aku. Selama ini dia kuliah di luar kota. Dan,
kebetulan sekarang ini dia lagi liburan. Makanya bisa ada di sini,” terang Ovan
dengan santai.
Aku tak percaya. Kenapa Ovan baru sekarang memperkenalkan kekasihnya, kalau
dia sudah berhubungan sejak lama? Lalu, apa maksud semua perhatiannya selama
ini? Setiap hari aku berusaha menyusun pengharapan yang sama, suatu saat dia
akan seutuhnya menjadi milikku. Sayang, dalam hitungan detik, segala harapan
itu hancur.
Semua ini, terasa begitu menyakitkan bagiku.
“Zul... Zul, kamu baik-baik saja?” panggil Ovan, membuatku tersadar harus
kembali ke kenyataan.
“Maaf Van, aku pulang duluan,” ucapku seraya meninggalkannya. Tanpa
menunggu persetujuannya. Karena, tak ada lagi harapan sama. Baginya maupun
bagiku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar