Cursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Senin, 25 April 2016

LUKA ITU (Lupa dalam buku apa, sepertinya terbitan penerbit harfeey)


Malam ini aku duduk dipojok kamar, Rentetan kejadian yang aku lihat, masih terekam jelas di memory ku. Saat Tania menggandeng Varo, memeluknya , aku tak percaya ini semua bisa terjadi. Menangis hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini atas semua yang telah menimpaku. Betapa terpukulnya aku ketika ku tahu bahwa sahabat terbaikku dengan teganya mengkhianatiku.
Tanti,  dia adalah satu-satunya sahabat terbaikku. Aku bahagia memiliki seorang sahabat seperti dia, dia adalah  satu-satunya orang yang mau berteman denganku ketika pindah ke sekolah ini. Tapi itu dulu, sebelum ku tahu semua yang telah dia lakukan padaku. Hariku begitu indah sebelum akhirnya Tanti menghancurkan semuanya.
***
Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku pergi kesekolah dijemput dengan Varo, sang pujaan hatiku. Tentu tidak hanya berdua, kami selalu bertiga. Aku, Varo dan Tanti selalu bersama. Kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun kami harus selalu bertiga itu peraturan paten yang telah ku buat. Varo selalu protes padaku, dia bilang Tanti bukan orang yang baik. Tanti terlalu agresif dan berani dengan lawan jenis dan Varo tak suka itu. Hingga suatu hari aku membuktikannya sendiri.
Saat jam isitirahat aku berencana ke perpus untuk mengembalikan buku. Letak perpus berada dipaling ujung. Di depan perpus ada taman dan kini taman itu di desain ulang menjadi taman bacaan.
Saat aku tak sengaja mengedar pandangan disekitar, aku menangkap sosok yang begitu ku kenal.
“Tanti, ngapain dia disitu..tadi katanya mau ke kantin.”  Tanyaku dalam hati.
“Tapi dia sama siapa…pacarnya.. kok dia gak pernah cerita..Tapi kenapa yang cowok marah-marah gitu…apa mereka bertengkar… Dari pada aku penasaran lebih baik aku temui mereka”.
Aku berjalan mendekati mereka. Dan ketika aku akan mengagetkan mereka, justru aku sendiri yang malah dibuat kaget.
“Varo” Seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat, aku berganti memandang perempuan disebelahnya. Dengan menahan tangis aku mencoba memperjelas semua.
“Tanti, kamu ngapain disini..katanya mau kekantin.”
“Ngapain ke kantin, mending disini sama My darling” ucapnya sambil menggandeng tangan Varo tapi Varo melepasnya.
“Kamu…” kalimat itu tak dapat kuselesaikan, Tangisku pecah seketika
“Apa…selingkuh gitu maksud kamu…” bentak Tanti
“Enggak Lev, ini semua tak seperti pikiranmu. Aku gak suka sama dia, kamu tau kan itu dan ini alasan kenapa aku melarangmu berteman dengan dia. Dari dulu dia selalu mengejar-ngejarku bahkan sebelum kamu pindah kesini.” Varo menjelaskan padaku.
“Aduh Levina sayang kamu itu terlalu bodoh. Kenapa kamu tak pernah curiga saat aku minta Varo mengantar aku pulang, saat aku dekat-dekat dengan Varo dan semua hal yang telah terjadi itu bukan kebetulan tapi aku yang membuatnya terlihat kebetulan. Dan yang Varo bilang benar, Aku mencintainya sejak dulu.”
“Jadi kamu sudah membohongiku..”
“Aku berteman denganmu hanya ingin selalu dekat dengan Varo, karena aku tahu dia suka sama kamu.”ucapan Tanti membuatku ingin segera pergi dari tempat ini.
Aku tak pernah percaya dengan keadaan sekitar yang mencoba memberitahuku atas semua ketidak wajaran ini. Dinding-dinding sekolah, bunga-bunga ditaman, bahkan angin mencoba menjelaskan padaku tentang apa yang telah mereka tahu.
Mungkin Tanti benar aku terlalu bodoh untuk bisa membaca semua keadaan ini atau bahkan aku terlalu takut untuk memahami semua ini. Aku benci semua ini, mereka telah sukses membuatku terluka.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar