Malam
ini aku duduk dipojok kamar, Rentetan kejadian yang aku lihat, masih terekam
jelas di memory ku. Saat Tania menggandeng Varo, memeluknya , aku tak percaya
ini semua bisa terjadi. Menangis hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini atas
semua yang telah menimpaku. Betapa terpukulnya aku ketika ku tahu bahwa sahabat
terbaikku dengan teganya mengkhianatiku.
Tanti, dia adalah satu-satunya sahabat terbaikku.
Aku bahagia memiliki seorang sahabat seperti dia, dia adalah satu-satunya orang yang mau berteman denganku
ketika pindah ke sekolah ini. Tapi itu dulu, sebelum ku tahu semua yang telah
dia lakukan padaku. Hariku begitu indah sebelum akhirnya Tanti menghancurkan
semuanya.
***
Pagi
ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku pergi kesekolah dijemput dengan
Varo, sang pujaan hatiku. Tentu tidak hanya berdua, kami selalu bertiga. Aku,
Varo dan Tanti selalu bersama. Kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun
kami harus selalu bertiga itu peraturan paten yang telah ku buat. Varo selalu
protes padaku, dia bilang Tanti bukan orang yang baik. Tanti terlalu agresif
dan berani dengan lawan jenis dan Varo tak suka itu. Hingga suatu hari aku
membuktikannya sendiri.
Saat
jam isitirahat aku berencana ke perpus untuk mengembalikan buku. Letak perpus
berada dipaling ujung. Di depan perpus ada taman dan kini taman itu di desain
ulang menjadi taman bacaan.
Saat
aku tak sengaja mengedar pandangan disekitar, aku menangkap sosok yang begitu
ku kenal.
“Tanti,
ngapain dia disitu..tadi katanya mau ke kantin.” Tanyaku dalam hati.
“Tapi
dia sama siapa…pacarnya.. kok dia gak pernah cerita..Tapi kenapa yang cowok
marah-marah gitu…apa mereka bertengkar… Dari pada aku penasaran lebih baik aku
temui mereka”.
Aku
berjalan mendekati mereka. Dan ketika aku akan mengagetkan mereka, justru aku
sendiri yang malah dibuat kaget.
“Varo”
Seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat, aku berganti memandang perempuan
disebelahnya. Dengan menahan tangis aku mencoba memperjelas semua.
“Tanti,
kamu ngapain disini..katanya mau kekantin.”
“Ngapain
ke kantin, mending disini sama My darling” ucapnya sambil menggandeng tangan
Varo tapi Varo melepasnya.
“Kamu…”
kalimat itu tak dapat kuselesaikan, Tangisku pecah seketika
“Apa…selingkuh
gitu maksud kamu…” bentak Tanti
“Enggak
Lev, ini semua tak seperti pikiranmu. Aku gak suka sama dia, kamu tau kan itu
dan ini alasan kenapa aku melarangmu berteman dengan dia. Dari dulu dia selalu
mengejar-ngejarku bahkan sebelum kamu pindah kesini.” Varo menjelaskan padaku.
“Aduh
Levina sayang kamu itu terlalu bodoh. Kenapa kamu tak pernah curiga saat aku
minta Varo mengantar aku pulang, saat aku dekat-dekat dengan Varo dan semua hal
yang telah terjadi itu bukan kebetulan tapi aku yang membuatnya terlihat
kebetulan. Dan yang Varo bilang benar, Aku mencintainya sejak dulu.”
“Jadi
kamu sudah membohongiku..”
“Aku
berteman denganmu hanya ingin selalu dekat dengan Varo, karena aku tahu dia
suka sama kamu.”ucapan Tanti membuatku ingin segera pergi dari tempat ini.
Aku
tak pernah percaya dengan keadaan sekitar yang mencoba memberitahuku atas semua
ketidak wajaran ini. Dinding-dinding sekolah, bunga-bunga ditaman, bahkan angin
mencoba menjelaskan padaku tentang apa yang telah mereka tahu.
Mungkin
Tanti benar aku terlalu bodoh untuk bisa membaca semua keadaan ini atau bahkan
aku terlalu takut untuk memahami semua ini. Aku benci semua ini, mereka telah
sukses membuatku terluka.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar